"Lalu saya mengajukan membuat LP mewakili teman-teman yang lain 99 orang dengan total kerugian Rp 5,7 miliar. Kalau saya sendiri dikonversi sekitar Rp 700 juta, itu total (kerugian) 99 orang Rp 5,7 miliar," ujarnya. Korban lain, pria berinisial R, menjelaskan istrinya juga menjadi korban penipuan itu. Istrinya mulanya diajak oleh rekannya untuk ikut serta dalam investasi itu. Pihak perusahaan menjanjikan keuntungan besar hingga membuat korban tergiur.

"Mengiming-imingi keuntungan yang lumayan signifikan, dengan cara membeli suatu produk, suatu produk, yaitu dengan berkedok aplikasi tekno investasi teknologi hijau, ya seperti panel surya, yang berhubungan dengan hal-hal seperti itu, yang mana ketika kita membeli suatu produk tersebut, menjanjikan keuntungan bisa dalam harian, mingguan, bulanan, sampai tahunan, tergantung pembelian suatu produk tersebut apa-apa saja," kata dia.

"Semakin banyak kita membeli suatu produk tersebut, kita akan kita akan masuk ke dalam suatu circle yang mana sesuai dengan rate pembelian kita, rate pembelian kita, dan juga kita juga diiming-imingi seperti cashback dalam bentuk klaim voucher yang mana itu bisa diuangkan dalam bentuk USD," jelasnya.

Sama seperti korban sebelumnya, R menjelaskan sistem mulai chaos pada Agustus 2025. Korban tak bisa melakukan penarikan keuntungan maupun modal yang sudah ditanamkan dengan alasan maintenance. "Sampai dengan di September 2025 yang mana aplikasi tersebut mulai chaos tidak bisa dibuka lagi. Tidak bisa dibuka lagi yang menyebabkan para-para member yang sudah menarik tersebut tidak bisa menarik dananya yang ada di aplikasi tersebut. Nah, yang menyebabkan semua pada panik," tuturnya.

Para korban sudah mencoba mendatangi kantor perusahaan tersebut yang berlokasi di salah satu gedung di TB Simatupang, Jakarta Selatan. Namun, tak ada kejelasan bahkan kantornya sudah tidak ada di lokasi.