"Kualitasnya secara mengejutkan lumayan bagus dan karakter AI-nya bisa berakting dengan cukup baik. Namun, tidak akan mudah bagi AI untuk menggantikan aktor sungguhan," beber Yeon dalam sebuah wawancara di Seoul pertengahan Oktober lalu.
Ia tak menampik bahwa nyawa dari film sejatinya bertumpu pada aura khas yang dipancarkan oleh aktor manusia.
"Industri film itu bisnis yang aneh," sebut Yeon Sang-ho. "Orang-orang menyuntikkan modal masif agar film terlihat nyata, tapi mereka memakai aktor terkenal yang semua orang tahu."
"Penonton tak butuh realitas murni, melainkan ilusi yang meyakinkan. AI adalah wujud akumulasi dari pola umum, jadi ia tidak bisa menangkap keunikan individual," tuturnya.
Korea Selatan kini juga bersiap menayangkan lebih banyak film panjang yang sepenuhnya hasil kecerdasan buatan (AI) di bioskop bulan ini. (Lotte Entertainment)
Pergerakan masif AI pada akhirnya memaksa berbagai perhelatan besar untuk turun tangan.
Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) ke-30 pada Juli lalu sampai harus memperluas kategori kompetisi mereka guna menampung karya-karya film panjang AI sekaligus menggelar pertemuan industri untuk membahas standar kreatifnya.
Urgensi untuk segera merangkul teknologi ini juga digaungkan oleh sutradara kenamaan asal China, Jia Zhangke, saat mengisi seminar di Busan International Film Festival bulan lalu.
Ia sendiri mengaku sudah menyutradarai tiga film pendek AI dalam dua tahun terakhir demi membedah potensinya.