"Ketika optik dan kimia maju 130 tahun lalu, sinema pun lahir," ucap Jia. "Kita tidak bisa memblokir kedatangan AI, dan lebih penting bagi kita untuk membuat satu atau dua film sendiri untuk memahaminya ketimbang larut dalam perdebatan emosional."

Bagi Jia, AI punya keistimewaan untuk merealisasikan dunia visual yang melampaui imajinasi manusia.

"AI bisa memberi bentuk pada hal-hal yang eksis di dimensi berbeda dan menciptakan dunia yang tidak bisa ditangkap oleh syuting *live-action*," tegasnya.

"Emosi dan kesadaran manusia harus melebur dalam proses kreatif, dan kita perlu memikirkan matang-matang di mana posisi manusia saat bersanding dengan AI."

China sebelumnya juga sudah menayangkan film panjang pertama yang sepenuhnya berbasis AI di bioskop. Namun, film bertajuk Sanxingdui: Future Past dipastikan flop setelah menelan biaya produksi setara Rp27,2 miliar.

Banyak warga mengaku ogah mengeluarkan uang untuk tontonan yang kualitasnya setara dengan video-video yang bisa mereka lihat gratis di media sosial.

Iris Yang, salah satu penonton yang hadir di pemutaran pratayang gratis, terang-terangan mengaku enggan merogoh kocek jika harus membayar kualitas seperti itu. Ia baru bersedia beli tiket kalau visual AI-nya sudah bisa menyamai pengalaman teatrikal setara waralaba Avatar.

Hal senada diungkapkan Lilian Gong, penonton berusia 35 tahun yang nekat menonton penayangan perdana di pusat kota Beijing murni karena penasaran.

"Dari segi kualitas, dibandingkan dengan produksi manusia, ini masih kurang," keluhnya kepada AFP.