Pernyataan Menhan Korsel ini disampaikan sehari setelah Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa ranjau milik Korut "sangat dicurigai" sebagai penyebab dua ledakan pekan lalu di area DMZ.
Meskipun area DMZ sendiri secara resmi berstatus demiliterisasi, perbatasan di sisi utara dan selatannya termasuk perbatasan yang paling dijaga ketat di dunia dan masih dipenuhi ranjau darat.
Dalam sidang parlemen pada Selasa (29/9), Yang Jin Hyeok dari kantor Kepala Staf Gabungan Korsel (JCS) menyampaikan kepada para anggota parlemen bahwa pemeriksaan lokasi yang dilakukan sebelumnya pada hari itu, menemukan sebuah ranjau antipersonel plastik milik Korut yang belum meledak.