NADIKABAR.COM — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berjanji terus mengupayakan langkah praktis untuk mengurangi ketegangan militer dengan Korea Utara, meski kedua pihak berselisih menyusul ledakan ranjau di zona demiliterisasi (DMZ).

"Pemerintahan saya akan secara konsisten mengupayakan langkah-langkah praktis untuk mengurangi ketegangan militer antara kedua Korea," kata Lee, seperti dikutip kantor berita Yonhap, Kamis.

Lee menyampaikan pernyataan tersebut dalam upacara memperingati Hari Angkatan Bersenjata ke-78 di markas militer Gyeryongdae, Provinsi Chungcheong Selatan.

Dia mengatakan hubungan kedua Korea masih sangat tegang, tetapi Korea Selatan akan berupaya dengan sabar memperbaikinya.

"Persoalan dalam hubungan antar-Korea sangatlah kompleks, tetapi kami akan terus berupaya secara konsisten dan sabar untuk menguraikannya satu per satu," kata Lee.

Lee mengatakan keamanan yang paling dapat diandalkan tercapai ketika konflik tidak lagi diperlukan.

Dia juga menyerukan Korea Utara bergabung dengan Korea Selatan untuk memulihkan kepercayaan dan melanjutkan dialog.

Pada 21 September, tiga orang, termasuk dua tentara Korea Selatan, terluka akibat ledakan yang diduga berasal dari dua ranjau di zona demiliterisasi.

Satu ranjau lain yang belum meledak kemudian ditemukan di lokasi yang sama.

Militer Korea Selatan menyatakan ranjau yang meledak tersebut ditanam oleh Korea Utara. Seoul menyebut insiden itu sebagai pelanggaran perjanjian gencatan senjata serta menuntut permintaan maaf dan langkah yang sesuai dari Pyongyang.

Sementara itu, Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sekaligus pejabat Departemen Komite Sentral Partai Pekerja Korea, membantah keterlibatan Pyongyang dalam dugaan ledakan ranjau tersebut.

Kim menyebut tuduhan itu sebagai tindakan provokasi.

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan