NADIKABAR.COM — Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Kementerian Pertanian berupaya menyiapkan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk sektor pertanian guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di pasar global, khususnya di Jepang.
“Kebutuhan tenaga kerja sektor pertanian di luar negeri cukup besar. Ada sekitar 3.878 peluang kerja yang tersedia di berbagai tempat, termasuk Malaysia, Taiwan, serta sejumlah negara di Eropa,” kata Wakil Menteri P2MI Christina Aryani dalam siaran pers KP2MI di Jakarta, Kamis (1/10).
Upaya tersebut dibahas dalam dialog daring antara Wakil Menteri P2MI Christina Aryani dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti, Rabu (30/9).
Menurut Christina, kebutuhan tersebut perlu disiapkan dan terintegrasi sejak di dalam negeri, termasuk berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja sesuai kompetensi serta persyaratan penempatan di wilayah tujuan, seperti Jepang, Taiwan, Malaysia, Bulgaria, dan Kroasia.
“Kami akan mengembangkan proyek percontohan penyiapan dan penempatan pekerja pertanian ke luar negeri. Mulai dari identifikasi kebutuhan tenaga kerja, rekrutmen, pelatihan, penguasaan bahasa, sertifikasi hingga penempatan,” ujar Christina.
“Nantinya, lembaga pendidikan dan pelatihan pertanian menjadi pusat penyiapan talenta sebelum calon pekerja menjalani proses penempatan,” tambahnya.
Wakil Menteri P2MI itu mengatakan bahwa peluang besar penempatan pekerja migran di sektor pertanian harus diikuti dengan penyiapan tenaga kerja yang memiliki keterampilan, kemampuan bahasa, pemahaman budaya kerja, serta sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan negara tujuan.
“Dengan begitu, mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan, memahami budaya kerja negara tujuan, dan dapat bekerja secara aman serta terlindungi,” kata Christina.
Selain itu, BPPSDMP Kementerian Pertanian menjelaskan program pelatihan pertanian yang telah berjalan, termasuk penempatan ratusan lulusan di sektor pertanian melalui skema Specified Skilled Worker (SSW).
Christina menilai, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk memperluas kolaborasi penyiapan talenta pertanian Indonesia. Apalagi, kebutuhan tenaga kerja sektor pertanian di sejumlah negara tujuan penempatan meningkat.