Taufik mengimbau masyarakat tetap melakukan urban farming di rumah atau lingkungan sekitar, tetapi menyesuaikan jenis tanaman, kondisi lingkungan, dan ketersediaan air.

Lalu, penyiraman dilakukan secara efisien, sebaiknya pada waktu yang tidak terlalu panas dan dapat menggunakan molase pertanian sebagai tetes tebu untuk mempertahankan kelembapan media.

"Masyarakat juga dapat memanfaatkan wadah atau tandon untuk menampung air sehingga penggunaannya lebih terkontrol. Dengan pengelolaan yang baik, urban farming tetap dapat berjalan meskipun pada musim kemarau," kata Taufik.

Taufik berharap keterbatasan lahan dan perubahan cuaca tidak menghambat produktivitas masyarakat dalam menghasilkan komoditas tanaman.