NADIKABAR.COM — Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Timur memastikan pertanian perkotaan (urban farming) di wilayah tetap berjalan meskipun musim kemarau.

"Kegiatan urban farming di Jakarta Timur tetap berjalan dan penggiat urban farming maupun kelompok tani tetap melakukan budidaya tanaman," kata Kepala Sudin KPKP Jakarta Timur Taufik Yulianto saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Taufik menyebut ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan masyarakat maupun kelompok tani agar tanaman tetap tumbuh.

"Namun, musim kemarau menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi, khususnya dalam menjaga ketersediaan air untuk penyiraman," ujar Taufik.

Taufik menjelaskan kondisi kemarau dapat memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman apabila kebutuhan air tidak terpenuhi.

Menurut dia, tanaman dapat mengalami layu, pertumbuhan menjadi kurang optimal, dan kondisi kekurangan air yang berat dapat memengaruhi hasil panen.

"Karena itu, pengelolaan air menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan produktivitas urban farming," ucap Taufik.

Selain itu, tingkat kerentanan tanaman terhadap kekurangan air juga berbeda-beda, tergantung jenis tanaman, fase pertumbuhan, kondisi media tanam, ukuran wadah, hingga tingkat paparan sinar matahari.

Tanaman yang memiliki kebutuhan air relatif tinggi dan tanaman yang masih berada pada fase awal pertumbuhan umumnya lebih rentan apabila pasokan air tidak mencukupi.

"Tanaman sayuran berdaun seperti kangkung, sawi, pakcoy dan selada perlu mendapat perhatian dalam pengaturan penyiraman," kata Taufik.

Taufik mengimbau masyarakat tetap melakukan urban farming di rumah atau lingkungan sekitar, tetapi menyesuaikan jenis tanaman, kondisi lingkungan, dan ketersediaan air.

Lalu, penyiraman dilakukan secara efisien, sebaiknya pada waktu yang tidak terlalu panas dan dapat menggunakan molase pertanian sebagai tetes tebu untuk mempertahankan kelembapan media.

"Masyarakat juga dapat memanfaatkan wadah atau tandon untuk menampung air sehingga penggunaannya lebih terkontrol. Dengan pengelolaan yang baik, urban farming tetap dapat berjalan meskipun pada musim kemarau," kata Taufik.

Taufik berharap keterbatasan lahan dan perubahan cuaca tidak menghambat produktivitas masyarakat dalam menghasilkan komoditas tanaman.