NADIKABAR.COM — Betrand Peto disebut mengaku baru menyadari bahwa dirinya menjadi korban peretasan email dan dugaan akses ilegal setelah data pribadinya bocor serta tersebar di media sosial.

Pengacara penyanyi yang kerap disapa Onyo itu, Timothy Ezra Simanjuntak, menduga bahwa peretasan sudah terjadi selama beberapa bulan sebelumnya.

"Mungkin dari beberapa bulan. Baru dipahami sekarang, baru dipahami kok pas bocor baru dicek-cek," kata Ezra seperti diberitakan NadiKabar pada Selasa (3/11).

"Sempat ada notifikasi masuk, mungkin klien kami menganggap itu tidak masalah. Ternyata sudah banyak notifikasi untuk otentikasi verifikasi yang kedua, tapi klien kami baru paham setelah datanya bocor," lanjutnya.

Ezra mengatakan, gegara kejadian tersebut, kliennya mengalami kerugian yang sejauh ini bersifat immateril. Pihaknya juga masih mengkaji peluang adanya akun email lain yang ikut digunakan dalam proses verifikasi dua langkah.

Selain itu, Ezra juga menjawab dugaan keterlibatan orang terdekat, termasuk kemungkinan adanya pihak yang memiliki hubungan keluarga dengan Betrand. Ezra menegaskan bahwa kliennya sudah termasuk orang dewasa sehingga dianggap sudah cukup hukum.

Betrand Peto sendiri sudah menjalani pemeriksaan kembali oleh penyidik terkait laporannya atas dugaan akses ilegal dan peretasan akun serta email. Dalam klarifikasi tersebut, Betrand mendapatkan sekitar 30 pertanyaan.

"Sudah minggu lalu sudah dilakukan permintaan keterangan klarifikasi kepada BP (Betrand Peto). Sudah dilakukan malam-malam waktu itu," kata Ezra.

Ezra menyoroti pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan KUHP mengenai akses tanpa hak terhadap sistem elektronik milik orang lain, serta dugaan keterlibatan orang terdekat yang disebut tidak memiliki kewenangan untuk mengakses email Betrand.

"Yang perlu dipahami adalah, ini diakses oleh orang terdekat. Mesti dipahami itu ya. Diakses oleh orang terdekat, yang mana tidak mempunyai kewenangan terhadap email tersebut," kata Ezra.

"Di waktu saat berita acara klarifikasi, itu kan ada handphone. Dimasukkan email, sudah jadi, ada double verification. Dan itu seharusnya diketahui, double verification-nya pakai email apa," paparnya.

"Nah, yang berjalan tiba-tiba itu tidak diketahui email verifikasi one-step atau two-step verification-nya. Nah, itulah yang baru diketahui oleh klien kita," kata Ezra.

"Ketika data-data yang lain tiba-tiba terambil, nah email siapa yang nyangkut? Ada orang yang masuk, siapa? Ya, yang kita pahami hanya satu email, ternyata ada dua emailnya," lanjutnya.

Ezra memastikan Betrand dan Ruben Onsu telah dipanggil secara bersamaan oleh penyidik pada pekan lalu.