Herry kemudian meminta para taruna kelak tidak hanya mengenali angka kriminalitas dan jumlah penduduk di wilayah penugasan. Seorang perwira juga perlu mengenali sungai, hutan, sumber air, kawasan rawan, aktivitas ekonomi, konflik lahan hingga perubahan yang terjadi di wilayahnya.

Kemampuan tersebut diperlukan agar seorang pemimpin tidak sekadar menjalankan kewenangan, tetapi mampu membangun sistem untuk menyelesaikan persoalan yang kompleks. Ia juga mengingatkan inovasi tidak boleh berhenti ketika seorang pemimpin berpindah jabatan. Inovasi harus bergerak dari gagasan, eksperimen dan evaluasi menjadi kebijakan, sistem hingga akhirnya membentuk budaya organisasi.

Dengan demikian, keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur dari program yang dilahirkan, tetapi dari sistem yang tetap bekerja setelah pemimpinnya tidak lagi berada di sana.

Herry menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa modal utama anggota Polri bukan semata kewenangan, tetapi kepercayaan masyarakat.

"Senjata utama Polisi bukanlah senjata, bukan pentungan, dan bukan pula kewenangan untuk menegakkan hukum. Senjata utama kita semua sebagai anggota Polri adalah kepercayaan dari masyarakat," tegasnya.

Menurut Herry, kewenangan diberikan negara dan jabatan diberikan organisasi, sementara kepercayaan hanya dapat diperoleh dari masyarakat.

"Karena itu, generasi perwira mendatang tidak cukup hanya mampu beradaptasi terhadap perubahan, tetapi harus mampu mempersiapkan Polri menghadapi perubahan tersebut," pungkasnya.