Di Jakarta, persoalan tersebut masih menjadi pembahasan. Pada Agustus 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan masih menerima masukan dari komunitas mengenai kondisi dan pengelolaan jalur sepeda. Pemerintah juga mengakui adanya persoalan seperti jalur yang tidak terhubung, tidak terawat atau digunakan kendaraan lain.

Sementara itu, B2W Indonesia pada Agustus 2026 mendorong agar jalur sepeda yang sudah tersedia dapat terhubung dengan kawasan permukiman, perkantoran dan stasiun transit. Mereka juga mendorong penyediaan fasilitas pendukung bagi pesepeda.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kultur sepeda tidak hanya tumbuh di komunitas, tetapi juga bersinggungan langsung dengan bagaimana sebuah kota dirancang.

Perkembangan skena sepeda juga membuat kegiatan bersepeda semakin dekat dengan industri pariwisata.

Berbagai daerah mulai melihat komunitas sepeda sebagai salah satu potensi untuk mendatangkan pengunjung. Rute bersepeda dapat dikembangkan melewati kawasan wisata, pedesaan, pegunungan, pantai maupun destinasi budaya.

Fun Bike Tanjung Lesung 2026 menjadi salah satu contoh. Kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai acara olahraga, tetapi juga sebagai agenda sport tourism yang memperkenalkan kawasan wisata kepada komunitas pesepeda.

Model seperti ini membuat perjalanan bersepeda memiliki dimensi baru. Pesepeda tidak hanya mengejar garis finis, tetapi juga menikmati tempat yang dilewati.

Jika melihat perkembangannya, kultur sepeda di Indonesia sebenarnya tidak memiliki satu bentuk.

Sepeda bisa menjadi alat transportasi seperti yang didorong komunitas bike to work. Bisa pula menjadi olahraga, sarana rekreasi, aktivitas keluarga, kegiatan komunitas, hingga cara menjelajahi destinasi wisata.

Bahkan, pada 2026, kampanye keselamatan bersepeda di Bandung melibatkan komunitas B2W dan Persib Bandung Bermartabat melalui kegiatan bersepeda keliling kota. Kegiatan tersebut membawa isu keselamatan dan ruang jalan yang lebih aman bagi seluruh pengguna jalan.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa skena sepeda tidak hanya berbicara mengenai jenis sepeda atau perlengkapan yang digunakan. Ada persoalan komunitas, kesehatan, lingkungan, mobilitas, kreativitas dan ruang publik yang ikut tumbuh di dalamnya.

Pada akhirnya, kultur bersepeda di Indonesia berkembang mengikuti kebutuhan dan cara masyarakat menikmati sepeda.

Ada yang mengayuh untuk bekerja, ada yang mengejar kebugaran, ada yang mencari teman, ada pula yang sekadar ingin menikmati perjalanan tanpa terburu-buru.

Dan mungkin justru di situlah menariknya dunia sepeda. Satu benda yang sama bisa memiliki arti berbeda bagi setiap orang, tetapi semuanya bertemu pada satu aktivitas sederhana, yaitu mengayuh dan menikmati perjalanan.