Selain persoalan air, lanjut dia, keterbatasan alat dan mesin pertanian juga menjadi kendala karena petani harus menggunakan traktor secara bergantian ketika mengolah lahan.

Diskatan Kuningan pun mengusulkan bantuan traktor roda dua, yang dinilai lebih sesuai dengan karakteristik lahan pertanian di wilayah tersebut dibandingkan traktor roda empat.

"Kami juga membutuhkan power thresher karena tenaga kerja pertanian sekarang mulai berkurang," kata Wahyu.

Di sisi lain, ia menambahkan Kabupaten Kuningan memperoleh program Optimalisasi Lahan (Oplah) seluas 2.236 hektare pada 2025 dan tambahan 725 hektare pada 2026 untuk mendukung pemanfaatan lahan pertanian.

"Kami berharap percepatan penanaman pada sisa tahun ini dapat membantu mengejar target produksi sekaligus menjaga posisi Kuningan sebagai salah satu daerah surplus beras," ucap dia.