NADIKABAR.COM — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mencatat produksi padi di daerahnya sudah mencapai 343.069 ton hingga September 2026 dan masih mengejar capaian 396.388 ton seperti tahun sebelumnya.

Kepala Diskatan Kuningan Wahyu Hidayah di Kuningan, Minggu, mengatakan, pemerintah daerah memiliki waktu hingga Desember 2026 untuk menambah produksi sekitar 53.319 ton agar dapat menyamai hasil musim tanam 2025.

"Kalau melihat data, kita masih punya waktu tiga bulan. Kekurangan luas tanam sekitar 2.100 hektare, insyaallah bisa tercapai," katanya.

Ia menjelaskan, produksi tersebut berasal dari aktivitas pertanian pada musim tanam, yang berlangsung di tengah kondisi kemarau lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan pencatatan Diskatan, luas tanam mencapai 62.077 hektare hingga Oktober 2026, sedangkan pada periode sebelumnya tercatat 64.185 hektare.

Adapun luas panen, kata dia, pada periode berjalan mencapai 55.923 hektare, sementara realisasi musim tanam 2025 mencapai 64.188 hektare.

Wahyu menilai masih terbukanya kesempatan tanam hingga penghujung tahun ini, bisa memberikan peluang bagi Kuningan untuk mengejar kekurangan produksi sekaligus mempertahankan capaian sektor pertanian.

Ia menyebutkan Kabupaten Kuningan sebelumnya berhasil mencatat surplus beras sebanyak 119.933 ton, sehingga pemerintah daerah berharap kondisi tersebut dapat dipertahankan pada tahun ini.

Namun, ia mengakui kemarau yang berlangsung lebih panjang memengaruhi frekuensi penanaman di sejumlah wilayah yang memiliki potensi sumber air untuk mendukung tiga kali musim tanam dalam setahun.

"Sejumlah wilayah sebenarnya bisa tiga kali tanam dalam setahun, tetapi karena kemarau panjang, sebagian hanya mampu melaksanakan sekitar dua setengah kali musim tanam," ujarnya.

Menurut Wahyu, ketersediaan air dan kondisi jaringan irigasi menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan kegiatan pertanian, terutama untuk mengejar luas tanam yang belum terpenuhi.

Selain persoalan air, lanjut dia, keterbatasan alat dan mesin pertanian juga menjadi kendala karena petani harus menggunakan traktor secara bergantian ketika mengolah lahan.

Diskatan Kuningan pun mengusulkan bantuan traktor roda dua, yang dinilai lebih sesuai dengan karakteristik lahan pertanian di wilayah tersebut dibandingkan traktor roda empat.

"Kami juga membutuhkan power thresher karena tenaga kerja pertanian sekarang mulai berkurang," kata Wahyu.

Di sisi lain, ia menambahkan Kabupaten Kuningan memperoleh program Optimalisasi Lahan (Oplah) seluas 2.236 hektare pada 2025 dan tambahan 725 hektare pada 2026 untuk mendukung pemanfaatan lahan pertanian.

"Kami berharap percepatan penanaman pada sisa tahun ini dapat membantu mengejar target produksi sekaligus menjaga posisi Kuningan sebagai salah satu daerah surplus beras," ucap dia.