Pakar DGAP, Laha, tidak memperkirakan bahwa isu hak asasi manusia akan mendapat porsi besar dalam kunjungan presiden Jerman tersebut. Steinmeier dikenal sebagai seorang pragmatis dalam kebijakan terhadap China. Ketika menjabat sebagai menteri luar negeri, ia mengambil jarak dari pendekatan kritis terhadap China yang ditempuh pendahulunya, Joschka Fischer, dan mengkritik Kanselir Angela Merkel karena menerima Dalai Lama.

Dalam isu Ukraina, Steinmeier kemungkinan akan berbicara lebih tegas dan menyinggung peran China. "Beijing jelas berpihak kepada Moskow," kata Michael Laha. Namun, pemerintah Jerman meyakini bahwa China dapat berbuat lebih banyak untuk mendorong Rusia melakukan perundingan yang serius dan menemukan penyelesaian konflik.

Steinmeier berpeluang menyampaikan hal tersebut dalam pidatonya di Universitas Peking pada hari Kamis. Menurut Kantor Kepresidenan Jerman, Jerman telah "mengiringi kebangkitan China selama bertahun-tahun dengan rasa hormat dan sikap positif". Kini, persoalannya bukan lagi semata-mata bagaimana China terus bangkit, melainkan bagaimana negara itu menggunakan kekuasaannya yang semakin besar.

"Jika presiden Jerman menegaskan bahwa Rusia menggunakan kekuatannya untuk menyerang sebuah negara berdaulat, ia mungkin sedang menyinggung persoalan lain yang berkaitan dengan kawasan tersebut: Taiwan," kata Laha. Pernyataan semacam itu akan menjadi seruan kepada Beijing agar mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga tatanan regional dan internasional.

Sebagai penutup kunjungannya, Steinmeier akan bertemu dengan para pemimpin China di Beijing. Pertemuan yang direncanakan mencakup pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping, yang telah dikenalnya selama hampir dua dekade, serta Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji.

Kunjungan ini menjadi penutup rangkaian fokus Steinmeier pada Asia selama masa jabatan keduanya. Sejak Jerman memasuki era perubahan mendasar yang dikenal sebagai Zeitenwende, ia secara khusus berupaya mempererat hubungan dengan para mitra di kawasan tersebut dan mendorong diversifikasi kemitraan. Kini, China—mitra Jerman yang paling penting sekaligus paling sulit—menjadi tujuan terakhir dalam rangkaian tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman