Dr Jain mengungkapkan, kurang tidur kronis juga memicu peradangan tingkat rendah di seluruh tubuh. Selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, aktivitas peradangan dapat berkontribusi pada kerusakan lapisan pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak lemak atau aterosklerosis. Kondisi ini dapat menyebabkan pembuluh darah menuju jantung menyempit.
Hal ini berkaitan erat dengan fungsi endotelium, yaitu lapisan bagian dalam pembuluh darah yang berperan membantu pembuluh darah rileks dan melebar saat dibutuhkan. Kurang tidur dapat mengganggu kemampuan tersebut sehingga pembuluh darah menjadi lebih kaku dan kurang responsif. Selanjutnya, kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, bahkan pada orang yang secara umum terlihat bugar dan sehat.
Tak hanya berdampak pada jantung, Dr Jain mengatakan bahwa kurang tidur juga memengaruhi metabolisme.
Kurang tidur dapat mengurangi sensitivitas insulin, mengganggu pengaturan gula darah, serta meningkatkan risiko jangka panjang diabetes tipe 2, yang menjadi salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Tidur juga berperan dalam mengatur hormon yang berkaitan dengan nafsu makan. Saat pola tidur terganggu, sinyal lapar menjadi kurang dapat diandalkan sehingga keinginan untuk mengonsumsi makanan berkalori tinggi meningkat. Berat badan pun cenderung naik.