Persoalannya, kebutuhan itu tidak otomatis mengharuskan pemerintah membentuk mata pelajaran khusus tentang MBG. Jangan sampai niat baik memperbaiki pemahaman gizi justru menambah beban sekolah, sementara tujuan pembelajarannya sebenarnya dapat dicapai melalui kurikulum yang sudah ada.
Dari sisi pendidikan, gagasan memasukkan materi gizi ke dalam pembelajaran memiliki dasar yang kuat yakni diharapkan dapat menguatkan literasi gizi pada anak. Masa anak-anak merupakan periode penting bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan pembentukan kebiasaan makan. Pengetahuan tentang protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan kebutuhan air dapat membantu mereka memahami mengapa tubuh membutuhkan makanan yang beragam dan seimbang.
Pemahaman tersebut juga perlu mencakup keamanan dan kehalalan pangan. Makanan yang terlihat menarik belum tentu aman dan halal untuk dikonsumsi. Kontaminasi mikroorganisme patogen atau benda haram/najis dapat terjadi selama pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi. Karena itu, anak perlu mengenali hubungan antara kualitas bahan makanan, kebersihan, cara pengolahan, dan kesehatan dalam konsep halal dan toyyib.
Materi ini dapat diajarkan melalui contoh yang dekat dengan kehidupan siswa. Anak sekolah dasar, misalnya, dapat belajar mengenali sumber protein dan membedakan jenis pangan. Siswa sekolah menengah dapat mempelajari komposisi zat gizi, membaca label pangan, memahami kebutuhan energi, hingga memeriksa kebenaran informasi kesehatan di media sosial.