"Mesin bisa menimbang dengan presisi. Tapi mesin tidak bisa mencium aroma yang berubah, tidak bisa meraba tekstur yang mulai mengental. Itu yang membuat kami memilih tetap manual di titik-titik tertentu. Bukan karena kami menolak teknologi, tetapi karena ada nilai yang harus dijaga," katanya.

Lebih lanjut, Arniel menilai tantangan industri herbal di Indonesia bukan semata-mata ketersediaan bahan baku, melainkan kemampuan pelaku usaha menjaga standar kualitas secara konsisten.

Kini konsumen semakin memperhatikan proses pembuatan produk dan asal bahan baku, sehingga transparansi dan konsistensi menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.

"Kepercayaan itu dibangun dari hal-hal kecil yang mungkin tidak terlihat oleh konsumen. Bagaimana kami memilih bahan di pasar, bagaimana kami menyortir, bagaimana kami menolak bahan yang tidak lolos standar. Semua itu tidak tertulis di kemasan, tetapi semuanya terasa di hasil akhir," ujarnya.

Arniel berharap pelaku industri herbal nasional semakin mengutamakan kualitas melalui penerapan standar yang konsisten, mulai dari pemilihan bahan baku hingga produk diterima konsumen.

Menurut dia, penerapan prinsip tersebut diperlukan agar industri herbal Indonesia dapat berkembang secara berkelanjutan dan meningkatkan kepercayaan konsumen di pasar domestik maupun internasional.

"Kualitas itu bukan tujuan akhir, tapi perjalanan yang harus dijalani setiap hari. Mulai dari bangun pagi, pergi ke pasar, memilih bahan, sampai produk sampai ke tangan konsumen. Kalau satu langkah saja dilewati, maka seluruh rantainya akan lemah," tutup Arniel.