Pada 1989, ia membeli pabrik baja milik pemerintah Trinidad dan Tobago yang tengah krisis dan rugi besar. Setahun kemudian, pabrik tersebut berhasil menggandakan produksinya dan mulai cuan.

Mittal menerapkan strategi serupa dalam serangkaian akuisisi di berbagai negara. Ia membeli perusahaan-perusahaan rugi, mayoritas perusahaan negara, kemudian mengirimkan tim manajemen khusus untuk melakukan restrukturisasi dan membenahi operasional bisnis tersebut.

Meskipun permintaan baja tinggi, produsen baja berskala kecil kesulitan mendapatkan kesepakatan bisnis yang kompetitif dengan klien-klien besar mereka, terutama produsen mobil dan peralatan rumah tangga.

Untungnya, perusahaan Mittal menguasai sekitar 40 persen pasar baja canai datar (flat-rolled steel) di Amerika Serikat (AS), yang digunakan untuk memproduksi mobil. Posisi tersebut memungkinkan perusahaan raksasa baja itu menegosiasikan harga yang lebih menguntungkan.

Pada 2004, Mittal menggabungkan perusahaannya, Ispat International dan LNM Holdings, serta mengakuisisi International Steel Group yang berbasis di Ohio, AS. Perusahaan baru hasil kesepakatan tersebut, Mittal Steel Co. NV, kemudian menjadi produsen baja terbesar di dunia.

Dua tahun kemudian, Mittal kembali mengawasi proses merger ketika Mittal Steel bergabung dengan Arcelor, perusahaan Luksemburg yang sebagian sahamnya milik pemerintah, untuk membentuk ArcelorMittal.

ArcelorMittal adalah perusahaan produsen baja yang menjadi perusahaan baja terbesar di dunia. Kantor pusatnya berada di Kota Luksemburg, Luksemburg.

Kala itu, Mittal menjabat sebagai CEO perusahaan gabungan tersebut hingga 2021, lalu mundur. Meski demikian, dia tetap menjabat sebagai executive chairman atau ketua eksekutif perusahaan.

Mittal nampaknya sosok crazy rich yang enggan tampil di media. Namun namanya kerap menjadi pemberitaan karena pengeluarannya yang fantastis. Misalnya, saat ia membeli rumah dengan 12 kamar tidur di London seharga US$128 juta atau Rp2,32 triliun.

Ia juga pernah menjadi pemberitaan saat merogoh kocek US$60 juta, setara Rp1,09 triliun untuk pernikahan putrinya di Paris pada 2004.

Selain itu, Mittal pernah menyumbang sekitar US$180 ribu atau Rp3,26 mliar kepada Partai Buruh Inggris (Labour Party) pada 2001. Donasi itu menuai kontroversi karena terjadi setelah terungkap Perdana Menteri Inggris saat itu, Tony Blair, membantu Mittal membeli sebuah perusahaan baja di Rumania.

Kontroversi juga muncul lantaran perusahaan-perusahaan Mittal mendukung kebijakan tarif baja Amerika Serikat, yang justru ditentang oleh produsen baja Inggris.