Apalagi, menurut Nisa, mencari jajanan di pusat kota kerap membuat pengunjung harus merogoh kocek lebih dalam. Bukan hanya untuk membeli makanan yang diincar, tetapi juga membayar parkir kendaraan.

"Jarang banget yang kayak gini tuh di Bandung mah. Coba kalau ke pusat kota, parkir dikit, priit, parkir dikit, priit (menirukan suara peluit tukang parkir). Kan niatnya mau jajan, malah tekor, a," ucap Nisa sambil tertawa sekaligus kesal saat menceritakan pengalamannya.

Tak hanya Nisa, salah satu pengemudi ojek daring, Asep Septiana (26), juga betah jika mengambil pesanan makanan di Bumi Panyileukan. Ia tak perlu repot mengeluarkan uang tambahan dan merasa nyaman memilih tempat di mana saja untuk memarkirkan kendaraan.

"Kebetulan rumah juga searah dari sini mah. Jadi pas berangkat narik atau mau arah pulang, biasanya ngambil orderan dulu ke sini. Enggak pernah riweuh weh, mang, kalau soal parkir mah. Aman enggak ada yang mintain," kata Asep.

Asep berharap kondisi seperti ini terus dipertahankan. Sebab yang ia rasakan, kenyamanan tersebut bisa mengundang orang lain untuk mencoba berwisata kuliner di sana hingga bisa semakin ramai.

"Intinya mah harus dipertahanin kayak gini tuh, biar makin ramai kawasannya terus yang datang juga ngerasa makin betah," pungkasnya.