NADIKABAR.COM — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Bandung menggelar soft launching Lamoria Pavilijoen. Tempat ini adalah etalase karya tangan narapidana (napi), mulai dari produk kuliner hingga busana.
Kegiatan ini mengundang kerumunan warga pada pagi tadi. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Ika Yusanti, bersyukur melihat antusiasme masyarakat.
"Alhamdulillah dukungan masyarakat sangat luar biasa. Ini kami artikan sebagai dukungan besar masyarakat terhadap pembinaan melalui kreativitas warga binaan dalam menghasilkan produk yang bernilai ekonomi," ujarIka dalam keterangannya pada Minggu (1/11/2026).'
Acara ini berlangsung di Sport jabar. Ika menjelaskan etalase karya napi ini juga menjadi ruang interaksi antara warga binaan, petugas dan masyarakat
"Karena sejatinya warga binaan akan kembali ke masyarakat, sehingga dukungan kuat masyarakat sangat dibutuhkan," ucap Ika.
Ika lalu berterima kasih pada Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Barat (Jabar) yang mendukung acara ini lewat fasilitas tempat. Pihak Dinas Pemuda dan Olahraga Jabar yang diwakili Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga, Gilang Sailendra, menilai ramainya warga yang berkunjung sebagai bentuk antusiasme yang luar biasa.
"Luar biasa, selain apresiasi terhadap produk-produk warga binaan Lamoria, saya juga bangga dengan warga bandung yang medukung lamoria dan kegiatan di Sport Jabar," kata Gilang.
Pihak Lapas Perempuan Bandung membuka acara dengan senam Zumba, cek kesehatan gratis dan pameran produk Lamoria mulai dari batik, ecoprint, rajutan, craft, pakaian hingga produk-produk kuliner. Lapas Perempuan Bandung memperkenalkan dua produk kuliner unggulan mereka yakni Puff Tape dengan 8 varian rasa, dan kue soes dengan lima varian rasa.
"Kue soes memperkenalkan empat rasa baru yaitu butterscotch coffee, coconut cloud , cokelat dan matcha," sebut Kepala Lapas Perempuan Bandung, Rika Aprianti.
Dia berharap dua produk kuliner buatan napi ini menjadi opsi oleh-oleh khas Bandung. Rika menyebutkan bahwa Puff Tape diusung untuk membangkitkan kenangan lama kota Bandung yang terkenal dengan peuyeum.
"Sekali lagi syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, lebih dari 500 warga Bandung berkunjung, rela antre lama untuk dapat kesempatan mencoba produk-produk Lamoria, khususnya Puff Tape. Puff tape dan soes ludes, bahkan tadi ada yang menayakan soes lagi, tapi sudah kehabisan," ungkap Rika .'
Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah napi. Napi berinisial EA yang memiliki kemampuan meracik minuman kopi alias barista, mengaku sampai kewalahan meladeni pesanan pengunjung Lamoria Pavilijoen.
"Dari saya datang sampe sekarang saya belum berhenti meracik kopi dan jenis minuman lain," tutur napi head chef di pos pelatihan kerja Bakery and Coffee Lamoria.
Napi lainnya yang bernama Mei menyampaikan keharuannya melihat puff tape dan soes buatan dirinya serta napi lainnya cocok di lidah pengunjung.
"Butuh 6 tahun bongkar pasang racikan hingga akhirnya menghasilkan puff tape yang sekarang ini bisa dinikmati," sebut perempuan yang menemukan resep rahasia puff tape ini.
Soal kualitas rasa puff tape, seorang pengunjung bernama Jessica merasakan sensasi tekstur renyah dan isian roti yang lumer di mulut. "Rasa tapenya bener- bener kekinian," sebut Jessica.
Kembali ke Rika, ia berharap hadirnya Lamoria Pavilijoen mendekatkan karya napi ke masyarakat. Sekaligus, sambungnya,
"Sekali lagi mohon dukungannya kepada semua masyarakat, semoag cita-cita Lamorai pavilijoen dapat terwujud, menjadi ruang bersama Lapas Perempuan Bandung dengan masyarakat dan yang tidak kalah penting lagi menjadi media penghantar warga binaan kembali ke masyarakat menjadi warga negara mandiri dan taat hukum," pungkas Rika.