Bagi Abdul, bantuan yang diterimanya kala itu seperti secercah cahaya yang menuntunnya mencari jalan dalam perjalanan yang gelap. Pengalaman pertama tersebut selalu diingat dan bantuan serupa terus ia dapatkan hingga saat ini ketika berkelana ke berbagai kota menggunakan kereta api.

Kereta api menjadi salah satu moda transportasi andalan Abdul, penyandang disabilitas netra, ketika bepergian ke luar kota, baik untuk mengunjungi rumah kerabat maupun menghadiri berbagai pengajian.

Sekitar tahun 2024, dirinya bahkan hampir pasti memanfaatkan kereta api setiap satu bulan sekali untuk bepergian pulang-pergi dari Yogyakarta ke Sidoharjo.

"Dulu saya kerja di Sidoharjo, setiap sebulan sekali pasti pulang ke Yogyakarta naik kereta api," kata Abdul.

Walaupun saat ini sudah tidak bekerja di luar kota, aktivitas menggunakan kereta api masih sering dilakukannya. Perjalanan terakhir yang ditempuhnya menggunakan kereta api adalah ke Blitar dengan menaiki KA Kahuripan pada Agustus lalu.

"Ini besok akhir tahun rencananya mau ke Solo naik Commuter Line," kata dia.

Abdul membagikan pengalamannya sebagai seorang tunanetra yang mendapatkan pelayanan ketika menggunakan fasilitas umum di stasiun. Pengalaman itu ia bagikan agar para penyandang disabilitas netra tidak perlu khawatir ketika bepergian seorang diri, terlebih saat menggunakan kereta api.

Biasanya, Abdul berangkat dari Seyegan menuju Stasiun Lempuyangan maupun Stasiun Yogyakarta dengan memesan ojek daring. Tongkat putih yang biasa membantunya beraktivitas tidak pernah lupa dibawanya.