Selain sebagai alat bantu, tongkat tersebut juga menjadi identitas bahwa orang yang memegangnya merupakan seorang tunanetra.

Abdul biasanya meminta pengemudi ojek daring yang mengantarnya untuk menurunkannya tepat di depan pintu masuk stasiun. Setelah turun dari motor, Abdul kemudian mengeluarkan tongkat putih dan menunggu di pinggir jalan.

Ia tahu, tidak lama kemudian seorang petugas stasiun akan menghampirinya dan menawarkan bantuan.

"Ada yang bisa dibantu, Mas? Mari saya antarkan," ujar Abdul menirukan ucapan petugas setiap dia berdiri di depan pintu masuk stasiun.

Petugas tersebut kemudian menuntun Abdul sesuai dengan kebutuhannya. Apabila urusan tiket sudah selesai, biasanya Abdul akan diantar menuju ruang tunggu penumpang sebelum kereta datang.

"Nanti ditanya merokok atau tidak. Kalau merokok nanti diantar ke smoking area," kata Abdul.

Petugas kemudian meninggalkan Abdul di ruang tunggu dan berpesan akan kembali ketika kereta yang akan ditumpanginya tiba. Abdul akan kembali dituntun hingga masuk ke dalam gerbong dan dipastikan duduk di bangku sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket.

"Hampir setiap kali ke stasiun, pasti ada petugas ramah yang bantu seperti itu, sama persis," kata dia.