NADIKABAR.COM — Tiga bulan setelah gempa bumi bermagnitudo 7,1 melanda Prefektur Kumamoto, Jepang, lebih dari 1.000 orang masih mengungsi di pusat-pusat evakuasi.
Mereka masih menunggu hunian sementara untuk dapat kembali menjalani kehidupan normal.
Gempa tersebut terjadi pada 28 Juli sekitar pukul 16.27 waktu setempat dan merusak rumah warga.
Hingga Senin (26/10), jumlah korban tewas tercatat 38 orang, yang 36 di antaranya akibat dampak bencana dan 2 orang lain meninggal saat bencana terjadi. Secara keseluruhan, jumlah korban mencapai 420 orang.
Pusat-pusat evakuasi masih beroperasi di 21 lokasi yang tersebar di tujuh kota dan wilayah administratif setingkat kota kecil.
Di Yatsushiro, sebanyak 579 orang yang setara lebih dari separuh total pengungsi masih bertahan di tempat penampungan; sedangkan 263 orang lain mengungsi di Uki, 155 orang di Hikawa, dan 65 orang di Uto.
Jumlah rumah terdampak kerusakan akibat gempa bumi mencapai 82.223 unit, termasuk 2.585 rumah hancur total.
Yoichi Yamaguchi (74), yang masih tinggal di pengungsian di Yatsushiro, mengalami sulit tidur dan terus-menerus merasa kelelahan.
"Saya tidak bisa tidur nyenyak, dan saya merasa lelah terus," kata Yamaguchi.
Rumah Yamaguchi sebagian mengalami kerusakan. Dia telah mengajukan permohonan untuk menempati hunian sementara, tetapi tidak terpilih sebagai penerima.
"Saya tidak tahu berapa bulan lagi yang harus saya lalui sebelum bisa meninggalkan tempat ini," katanya.
Pemerintah Prefektur Kumamoto, Selasa (27/10), merilis rancangan rencana pemulihan dan rekonstruksi yang memuat upaya untuk membantu warga membangun kembali kehidupan mereka, termasuk penyediaan hunian sementara secepat mungkin.
Dalam rapat membahas rekonstruksi tersebut, Gubernur Kumamoto Takashi Kimura mengatakan rencana tersebut harus menjadi harapan bagi wilayah terdampak bencana.
"Kita harus menjadikan rencana ini sebagai secercah harapan bagi daerah-daerah yang terdampak bencana," kata Kimura.
Pemerintah setempat juga telah menyusun peta jalan hingga tahun anggaran 2028 untuk memulihkan kehidupan masyarakat dan membangun kembali infrastruktur sosial.
Peta jalan tersebut mempertimbangkan berbagai kendala yang muncul, termasuk suhu panas ekstrem dan gangguan pasokan air yang perbaikannya perlu waktu satu bulan.
Rencana tersebut mencakup revisi pedoman operasional tempat pengungsian, penguatan sistem penyediaan air bersih dan saluran pembuangan, serta pemberian layanan kesehatan fisik dan mental bagi para korban bencana.
Rencana itu juga mencakup upaya baru untuk mengantisipasi tsunami, menyusul kekhawatiran bahwa segmen patahan yang membentang di lepas pantai dekat pusat gempa tidak mengalami pergeseran saat gempa terjadi.