NADIKABAR.COM — Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie), menegaskan kebanggaan terhadap batik perlu diwujudkan melalui langkah nyata agar warisan budaya tersebut tetap hidup. Pasalnya, peringatan Hari Batik Nasional dinilai belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan perajin maupun keberlanjutan keterampilan membatik.

"Memakai batik merupakan bentuk penghargaan. Penghargaan itu perlu dilanjutkan dengan memastikan para perajinnya dapat hidup layak, keterampilannya diwariskan, dan hasil karyanya memperoleh tempat yang adil di pasar," ujar Rerie dalam keterangan tertulis, Senin (5/10/2026).

Rerie menilai kondisi industri batik perlu dicermati secara utuh. Batik memiliki peluang sebagai produk budaya sekaligus ekonomi, tetapi menghadapi tekanan pasar dan persoalan regenerasi yang serius.

Data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) menunjukkan sepanjang 2019-2023 jumlah perajin batik turun sekitar 20%, dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu orang. Penurunan ini mencerminkan melemahnya keberlanjutan pelaku budaya di banyak sentra batik.

"Regenerasi tidak cukup dijawab dengan ajakan agar anak muda mencintai batik. Mereka juga harus melihat bahwa menjadi pembatik adalah pekerjaan yang memiliki masa depan, dengan penghasilan yang layak, kesempatan berkembang, dan penghargaan terhadap keahliannya," tegas Rerie.