"Sumatera Utara memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya berupa cerita rakyat dan folklor yang diwariskan secara turun-temurun," kata Eka.
Menurut Eka, cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral, kearifan lokal, identitas budaya, serta pandangan hidup masyarakat.
Namun, di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi, keberadaan cerita rakyat semakin jarang dikenal oleh generasi muda dan berisiko terlupakan.
"Festival Ngobrol Buku 2026 yang bertajuk 'Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern' ini diharapkan dapat mendorong lahirnya karya-karya cerpen berbasis budaya lokal yang layak dipublikasikan; menumbuhkan minat baca, minat tulis, dan kecintaan terhadap warisan budaya daerah; mendorong lahirnya penulis-penulis baru di kota Medan; serta memperkaya terbitan-terbitan karya sastra para penulis baru kota Medan," pungkas Eka.