NADIKABAR.COM — Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, tidak hanya dikenal dengan destinasi wisata seperti kawasan Gunung Bromo dan sejumlah wisata alam pegunungan. Di balik itu, terdapat desa-desa yang menawarkan pengalaman wisata berbasis alam, budaya, pertanian, hingga kehidupan masyarakat setempat.
Berdasarkan data Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata, terdapat 13 desa wisata di Kabupaten Pasuruan yang memiliki beragam potensi untuk dikunjungi. Daya tariknya pun cukup beragam, mulai dari kampung herbal, budidaya bunga edelweiss, wisata cagar budaya, hingga edukasi kopi dan pertanian.
Ke-13 desa wisata tersebut tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Setiap desa memiliki karakter dan potensi yang berbeda, mulai dari wisata alam dan perkebunan, peninggalan sejarah, tradisi masyarakat, hingga kegiatan edukasi yang bisa menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan.
Desa Wisata Sukolelo berada di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, tepat di bawah kaki Gunung Ringgit-Arjuno. Desa ini terdiri dari enam dusun, yakni Sukolelo, Kebonagung, Ganti, Junggo, Genting dan Sukodono.
Salah satu daya tarik utama Sukolelo adalah Kampung Herbal yang mulai terbentuk pada 2018. Sejak 2019, kawasan ini dikembangkan dengan konsep eduwisata berbasis masyarakat. Wisatawan dapat mengenal berbagai tanaman herbal sekaligus mempelajari cara masyarakat membudidayakan dan mengolahnya.
Selain Kampung Herbal, Sukolelo memiliki Sendang Sumber Segaran di Dusun Kebonagung. Kawasan tersebut menawarkan sumber air, ikan terapi, serta edukasi pertanian terpadu seperti mina padi, kebun sayur dan peternakan kambing.
Wisatawan juga dapat mengunjungi kawasan pengelolaan sayuran organik di Dusun Junggo. Di sini tersedia kegiatan edukasi pengelolaan tanaman sekaligus pengalaman memetik sayuran pakcoy, sawi, dan jenis sayuran lainnya. Potensi wisata Sukolelo semakin lengkap dengan keberadaan budaya lokal serta produk UMKM.
Desa Wisata Andonosari berada di Kecamatan Tutur, dan terletak di wilayah lereng tengah Suku Tengger. Nama Andonosari dalam cerita masyarakat berasal dari kata "andon" yang berarti numpang, dan "sare" yang berarti tidur, sehingga dimaknai sebagai tempat beristirahat atau transit.
Sejak masa kerajaan hingga kolonial, Andonosari disebut telah menjadi salah satu kawasan tujuan wisata. Jejak masa kolonial masih dapat ditemukan melalui sejumlah peninggalan, sementara potensi pertanian dan peternakannya terus berkembang.
Berbagai komoditas dapat ditemukan di desa ini, mulai dari apel, kentang, bunga krisan, paprika dan kopi hingga peternakan sapi perah. Andonosari juga memiliki kekayaan budaya dan tradisi.
Letaknya yang berada di tim redaksi Surabaya dan Malang membuat desa ini menjadi salah satu titik pertemuan berbagai budaya, termasuk budaya Tengger, pedalungan dan budaya perkotaan. Desa ini terbagi dalam enam dusun, yaitu Krajan I, Krajan II, Krajan III, Sugro, Sawahtalun dan Arjosari, yang memiliki potensi tersendiri.
Desa Wisata Cagar Budaya Wonosunyo berada di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Meski Gempol dikenal sebagai kawasan dataran rendah, Wonosunyo berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut.
Lokasinya berada di lereng Gunung Penanggungan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto. Kondisi tersebut membuat Wonosunyo memiliki suasana pedesaan yang sejuk dan asri dengan latar kawasan pegunungan.
Salah satu daya tarik utama desa ini adalah kekayaan cagar budaya. Di Dusun Belahan Jowo, terdapat Candi Belahan atau Petirtaan Belahan yang oleh masyarakat setempat juga dikenal sebagai Sumber Tetek. Situs tersebut merupakan peninggalan dari masa Raja Airlangga.
Kehidupan budaya masyarakat juga menjadi bagian penting dari daya tarik Wonosunyo. Sejumlah tradisi dan kesenian masih dijalankan, seperti selamatan desa atau barik'an, kirab ancak, festival Candi Belahan, jaranan, musik patrol dan albanjari.
Sektor pertanian juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Berbagai hasil pertanian seperti jagung, kacang tanah, padi, empon-empon, singkong, sayuran dan buah-buahan dihasilkan dari lahan desa. Salah satu produk UMKM yang menjadi ikon desa adalah kerupuk samiler berbahan singkong.
Selain itu, masyarakat juga memproduksi minuman herbal seperti jahe instan dan wedang secang celup. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi paket wisata edukasi, wisata budaya, camping ground, tracking hingga live in cagar budaya.
Desa Wisata Coban Goa Jalmo berada di Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Desa ini berada di lereng Gunung Arjuno sehingga menawarkan suasana pedesaan yang asri dan sejuk.
Daya tarik utama desa ini adalah Coban Goa Jalmo, destinasi yang memadukan air terjun dan goa peninggalan Belanda. Pengembangannya sebagai destinasi wisata mulai dilakukan sejak 2018 oleh kelompok sadar wisata bersama karang taruna, pemuda dan masyarakat setempat.
Goa tersebut memiliki cerita yang berkembang di tengah masyarakat mengenai sejarah dan kisah mistisnya. Salah satu cerita yang dikenal adalah keberadaan ular berkepala manusia yang dipercaya hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu.