Lebih lanjut dia menjelaskan perkembangan lomba lari memang masih lebih masif di Pulau Jawa dan Bali dibandingkan sejumlah wilayah lain di Indonesia. Namun, kegiatan serupa juga perlahan berkembang di sejumlah kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, seperti Kota Medan, Makassar, dan Banjarmasin.

Waketum itu menambahkan kesiapan daerah menjadi salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan lomba lari. Penyelenggara harus mendapatkan lokasi yang memenuhi persyaratan, dukungan pendanaan dan sponsor, serta tenaga yang membantu pelaksanaan perlombaan.

Ketersediaan sumber daya tersebut membuat sejumlah daerah di Jawa dan Bali lebih siap menggelar lomba lari dalam skala besar. Meski demikian, Tigor melihat perkembangan di luar wilayah tersebut tetap berlangsung secara alamiah.

"Sekarang orang lari itu sudah jadi kebutuhan dan budaya, karena sebelumnya mereka pelari rekreasional, tetapi kini sudah menjadi pelari yang serius, terbukti mereka masuk ke komunitas, memakai pelatih, dokter, dan ahli gizi," tambah dia.

Tigor juga menyoroti berkembangnya konsep sport tourism melalui lomba lari. Berdasarkan informasi yang diperolehnya dalam Global Running Conference yang digelar World Athletics di Kopenhagen, Denmark, beberapa hari lalu, peserta kini menjadikan perlombaan sebagai alasan untuk melakukan perjalanan atau liburan.