“Kami tidak mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membangun semuanya dari awal. Kami sudah memiliki infrastruktur, tetapi kami membutuhkan Universitas Tsinghua untuk memanfaatkannya bersama,” ujarnya.

Selain penelitian herbal, Luhut mendorong kerja sama genomik di sektor pertanian untuk menghasilkan benih unggul, tanaman yang lebih tahan terhadap tekanan lingkungan, serta meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan.

Ia menilai riset pertanian menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan pembangunan dan perubahan kondisi lingkungan.

Luhut berharap Tsinghua Southeast Asia Center di Bali dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama pendidikan dan penelitian antara China, Indonesia, serta negara-negara Asia Tenggara.

Ia menegaskan kemitraan kedua negara perlu bergerak melampaui investasi dan transfer teknologi menuju inovasi bersama yang menghasilkan manfaat bagi masyarakat.