NADIKABAR.COM — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan minta Universitas Tsinghua, China, berkolaborasi mengembangkan penelitian genomik terhadap kekayaan tanaman herbal Indonesia yang mencakup 435 spesies di Institut Teknologi Del (IT Del), Sumatera Utara.

“Kami memiliki seluruh ekosistem di sana. Ada 435 spesies herbal, yang menurut saya mungkin menjadi salah satu koleksi terbesar di kawasan ini, bahkan mungkin di dunia,” kata Luhut dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Bali, Minggu.

Luhut mengatakan Indonesia telah mengembangkan kemampuan penelitian genomik dan memiliki fasilitas teknologi untuk mempercepat pengkajian sumber daya hayati.

Karena itu, ia berharap peneliti Tsinghua dapat bekerja bersama ilmuwan Indonesia untuk memperkuat penelitian tersebut.

Menurut dia, kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia perlu dipelajari dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab melalui ilmu pengetahuan, sehingga tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

Luhut menyebut IT Del sedang mengembangkan kemampuan riset dan bank gen herbal.

Fasilitas tersebut juga didukung perangkat pengurutan genom dari China, termasuk MGI T7 dan MGI B300, untuk menunjang penelitian molekuler.

Ia mengatakan para peneliti juga mengembangkan kecerdasan buatan untuk membantu membaca molekul kemenyan atau frankincense, salah satu bahan herbal yang berpotensi dikaji lebih lanjut dalam penelitian kesehatan.

Luhut menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi berkemampuan riset tinggi seperti Tsinghua dapat memperkuat kapasitas ilmuwan Indonesia dalam mengembangkan penelitian berbasis sumber daya hayati.

Namun, ia menekankan kerja sama tersebut perlu diarahkan pada program konkret, mulai dari penelitian bersama, pertukaran peneliti, pengembangan laboratorium, hingga publikasi ilmiah.

“Kami tidak mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membangun semuanya dari awal. Kami sudah memiliki infrastruktur, tetapi kami membutuhkan Universitas Tsinghua untuk memanfaatkannya bersama,” ujarnya.

Selain penelitian herbal, Luhut mendorong kerja sama genomik di sektor pertanian untuk menghasilkan benih unggul, tanaman yang lebih tahan terhadap tekanan lingkungan, serta meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan.

Ia menilai riset pertanian menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan pembangunan dan perubahan kondisi lingkungan.

Luhut berharap Tsinghua Southeast Asia Center di Bali dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama pendidikan dan penelitian antara China, Indonesia, serta negara-negara Asia Tenggara.

Ia menegaskan kemitraan kedua negara perlu bergerak melampaui investasi dan transfer teknologi menuju inovasi bersama yang menghasilkan manfaat bagi masyarakat.