Perusahaan ini memperluas layanannya dengan fitur layanan personal yang dapat menelepon tempat usaha untuk melakukan reservasi atas nama pengguna. Shinn ingin asisten AI ini dapat mempelajari preferensi penggunanya seiring berjalannya waktu, sehingga mereka tidak perlu berulang kali menjelaskan keinginannya.

Awalnya, Instinct hanya dinilai USD 50 juta sebelum meroket jadi USD 10 miliar dalam lima bulan, lompatan 200 kali lipat. Lonjakan ini mencerminkan tingginya minat investor terhadap agentic AI, sistem yang tak hanya untuk menjawab pertanyaan, tapi bertindak mandiri untuk menjalankan berbagai tugas bagi penggunanya.

Kini, Shinn berhadapan langsung dengan Meta. Raksasa teknologi itu meluncurkan agen AI pribadi Muse sebagai bagian ambisi CEO Mark Zuckerberg menuju kecerdasan super personal.

Muse dan Instinct memiliki ambisi serupa, menciptakan asisten AI yang bisa melakukan lebih dari sekadar mengobrol, yakni mampu mengambil tindakan nyata bagi penggunanya.

Chief AI Officer Meta, Alexandr Wang, berulang kali melontarkan candaan terhadap Instinct di media sosial. Ia menyebutnya "Insect" (serangga), dan dalam unggahan lain mengklaim Muse bekerja lebih cepat dan lebih seksi. Shinn hanya menanggapi salah satu unggahan Wang tersebut dengan emoticon wajah tersenyum.

Ia menanggapi persaingan itu dengan santai. Shinn memuji Muse sebagai produk yang bagus sembari menyatakan dirinya menghabiskan sangat sedikit waktu memikirkan persaingan.