NADIKABAR.COM — Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan diversifikasi wisata budaya di Kalurahan Sambirejo, Prambanan. Empat program wisata itu dihadirkan agar wisatawan tak hanya singgah sebentar di Tebing Breksi.

Ketua PPK Ormawa EDSA PBI UMY, Reva Audya Harianto, mengatakan program itu digagas mahasiswa lewat Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) EDSA PBI UMY.

"Keempatnya adalah Sambirejo Cultural Lab, Sambirejo Guide Academy, Sambirejo Temple Trail, dan Narasimha Sunset Show," kata Reva dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/9/2026).

Ia mengatakan, program tersebut tidak sekadar membuat acara. Pihaknya ingin menghadirkan alternatif atraksi wisata di Sambirejo.

"Kami tidak ingin sekadar membuat event, tetapi mencoba mengembangkan beberapa alternatif atraksi wisata yang bisa memperkaya pengalaman wisatawan di Sambirejo," ungkap Reva.

Menurut Reva, animo masyarakat dan wisatawan terhadap program tersebut bahkan melebihi ekspektasi panitia. Kuota Camping Kalcer dan Sambirejo Temple Trail disebut penuh dalam waktu kurang dari satu jam setelah poster diunggah.

"Pertunjukan Narasimha Sunset Show bahkan disaksikan ratusan penonton hingga kehabisan tempat duduk," ucapnya.

Salah satu program yang dikembangkan, kata dia, yakni Sambirejo Temple Trail. Program itu berupa jalur jalan kaki sepanjang 7,3 kilometer yang melintasi sejumlah candi dan situs bersejarah.

"Rute ini melewati Candi Banyunibo, Candi Barong, Arca Ganesha, dan Spot Riyadi, dimulai serta berakhir di Tebing Breksi," terangnya.

Program Sambirejo Temple Trail itu, kata dia, digarap bersama Jogja International Heritage Walk. Kolaborasi itu dilakukan agar perjalanan panjang yang ditempuh peserta tetap memberikan pengalaman yang bermakna.

"Selain itu, terdapat pula Narasimha Sunset Show yang menjadi pertunjukan teatrikal yang digelar di kawasan Tebing Breksi menjelang matahari terbenam," ucapnya.

"Kisahnya terinspirasi dari Narasimha, awatara Dewa Wisnu berkepala singa, yang arcanya ditemukan di Bukit Ijo pada 1975," sambungnya.

Reva menjelaskan, pertunjukan tersebut menggabungkan drama, tari, musik, dan visual storytelling. Pertunjukan itu juga melibatkan warga dari Sanggar Turonggo Mudo dan Sanggar Unggah-Ungguh Sambirejo.

"Seluruh program diversifikasi wisata budaya ini pun dikerjakan melalui kolaborasi dengan beberapa pihak terkait," jelasnya.

Ia mengaku, timnya melibatkan Pemerintah Kalurahan Sambirejo, pengelola Tebing Breksi, pengelola Watu Payung, Kelompok Informasi Masyarakat, Sanggar Unggah-Ungguh, pemuda, serta warga setempat turut terlibat dalam program tersebut.

"Keterlibatan masyarakat justru menjadi salah satu bagian paling penting dalam program ini," jelasnya.

Kelompok Informasi Masyarakat bahkan menjadi pelaksana bersama mahasiswa dalam program Sambirejo Temple Trail. Reva berharap, program diversifikasi wisata budaya tersebut tidak berhenti setelah PPK Ormawa berakhir pada tahun ini.

"Justru ukuran keberhasilannya adalah ketika beberapa program bisa terus berjalan tanpa harus selalu bergantung pada mahasiswa," ujar Reva.

Ia melanjutkan, Sambirejo Temple Trail juga telah direncanakan untuk dikembangkan menjadi paket walking tour komersial yang dikelola Kelompok Informasi Masyarakat.

"Poster paket wisata tersebut bahkan sudah beredar di salah satu restoran di kawasan Sumberwatu," tururnya.

Ia menerangkan, semangat pengembangan diversifikasi wisata budaya di Sambirejo itu dirangkum dalam slogan 'Gumregah Budayane, Sumunar Wisatane', yang berarti budaya dan wisata semakin hidup.