NADIKABAR.COM — Trowulan tidak hanya dikenal sebagai kawasan peninggalan Kerajaan Majapahit. Di tengah kawasan bersejarah yang pernah menjadi pusat kerajaan tersebut, terdapat pula kompleks pemakaman Islam kuno yang menjadi salah satu jejak perkembangan Islam di Tanah Jawa.

Salah satunya adalah Kompleks Makam Troloyo yang berada di Desa Sentonorejo. Di kompleks tersebut terdapat makam sejumlah tokoh yang dipercaya masyarakat memiliki peran dalam penyebaran Islam di Jawa.

Salah satu yang paling dikenal adalah Sayyid Jumadil Kubro, yang dalam tradisi masyarakat setempat diyakini sebagai "Punjer Wali Songo" atau leluhur para wali penyebar Islam di Jawa.

Keberadaan makam Islam kuno di kawasan Trowulan menjadi bagian dari sejarah perkembangan masyarakat muslim pada masa Majapahit. Kompleks Troloyo hingga kini juga menjadi salah satu tujuan ziarah yang banyak dikunjungi masyarakat.

Setidaknya terdapat 19 nama yang dimakamkan di Makam Troloyo. Di antaranya, Syekh Al Chusen, Imamudin Sofari, Tumenggung Satim Singomoyo, Patas Angin, Nyai Roro Kepyur, Syekh Jumadil Kubro, Sunan Ngudung, Raden Kumdowo, Ki Ageng Surgi, Syekh Jaelani, Syekh Qohar, serta Ratu Ayu Kenconowungu.

Dikutip dari laman NadiKabar.com, makam Syekh Jumadil Kubro menjadi salah satu makam yang paling ramai dikunjungi peziarah di kompleks Troloyo. Aktivitas ziarah di makam tersebut disebut telah tercatat sejak 1864 hingga sekarang.

Masyarakat yang datang berziarah meyakini Syekh Jumadil Kubro sebagai seorang wali Allah. Dalam tradisi ziarah, sebagian peziarah melakukan doa dan tawasul melalui beliau dengan harapan doa yang dipanjatkan mendapat kemudahan untuk dikabulkan.

Syekh Jumadil Kubro memiliki nama asli Jamaluddin Hussein Al Akbar dan diperkirakan lahir sekitar 1270 Masehi. Dalam sejumlah riwayat, beliau disebut sebagai putra Ahmad Syah Jalaluddin, seorang bangsawan dari Nasrabad, India.

Silsilahnya juga disebut tersambung kepada Nabi Muhammad SAW melalui kakek buyutnya, Muhammad Shohib Mirbath dari Hadramaut yang merupakan keturunan Imam Ja'far Shodiq.

Dalam riwayat yang berkembang, Syekh Jumadil Kubro disebut pernah meninggalkan jabatan strategisnya sebagai Gubernur Deccan di India untuk berdakwah dan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah.

Rute perjalanan dakwahnya disebut meliputi Maghribi atau Maroko, Samarqand di Uzbekistan, Kelantan di Malaysia, hingga Jawa pada masa Majapahit dan Gowa di Sulawesi Selatan.

Dalam riwayat tersebut, perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro kemudian berlanjut hingga Trowulan. Ia disebut wafat dan dimakamkan di kawasan tersebut sekitar 1376 Masehi.

Selain makam Syekh Jumadil Kubro, kawasan Troloyo juga memiliki Makam Tujuh atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Kubur Pitu. Dilansir dari laman resmi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Makam Tujuh berada di dalam kawasan Situs Kepurbakalaan Tralaya.

Situs tersebut merupakan bagian dari kompleks pemakaman Islam kuno yang telah ada sejak era Majapahit. Secara fisik, area Makam Tujuh memiliki luas sekitar 15 meter x 7 meter.

Kawasan tersebut dikelilingi pagar bata dan dilindungi atap seng yang ditopang tiang-tiang kayu. Sejumlah nisan di Kubur Pitu memiliki inskripsi Arab, motif Surya Majapahit, serta angka tahun Saka. Berikut beberapa nisan yang memiliki keterangan tersebut.

Pada bagian luar nisan kepala terdapat inskripsi Arab sebanyak tiga baris yang bertuliskan, Lā ilāha illallāhu Muhammadu rasūlullāh, yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah".

Pada bagian dalam nisan kepala terdapat ukiran sinar matahari atau Surya. Di bawahnya terdapat pahatan angka tahun Saka 1397, yang setara dengan 1475 Masehi.

Pada bagian luar nisan kaki terdapat inskripsi Arab yang berbunyi Lā ilāha illallāhu Muhammadu rasūlullāh, dengan arti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah".

Sementara itu, bagian dalam nisan kaki memiliki ukiran sinar matahari yang di bagian tengahnya dilengkapi motif bunga teratai. Di bawah motif tersebut terdapat inskripsi angka tahun 1349 Saka atau 1427 Masehi.

Pada bagian luar nisan kepala terdapat inskripsi Arab yang sama dengan makam Pangeran Noto Suryo dan Patih Noto Kusumo, yakni Lā ilāha illallāhu Muhammadu rasūlullāh yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah".

Bagian dalam nisan kepala juga dihiasi ukiran sinar matahari dengan bunga teratai di bagian tengah. Di bawah motif tersebut terdapat angka tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi.

Pada bagian luar nisan kepala terdapat inskripsi Arab Kullu nafsin dzā'iqatul maut, yang berarti "Tiap-tiap yang bernyawa pasti mengalami kematian".

Bagian dalam nisan kepala dihiasi ukiran sinar matahari dengan bunga teratai di bagian tengahnya. Di bawah motif tersebut terdapat ukiran angka tahun, tetapi kondisinya telah aus sehingga tidak dapat diidentifikasi.

Selain makam-makam tersebut, terdapat sejumlah nisan lain yang tidak memiliki angka tahun. Namun, beberapa di antaranya tetap dihiasi dengan motif sinar matahari atau Surya Majapahit.

Keberadaan inskripsi bahasa Arab, angka tahun Saka, dan motif Surya Majapahit pada kompleks Makam Tujuh menunjukkan adanya tinggalan Islam di lingkungan Majapahit. Perpaduan unsur tersebut menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan dan keberadaan komunitas muslim di Trowulan pada masa lalu.