Ada pula istilah dengke simudurudur, yang menggambarkan ikan yang bergerak maju dan mundur. Simbol tersebut dikaitkan dengan harapan agar kedua mempelai dapat berjalan bersama dalam menjalani pekerjaan, kehidupan, dan usaha menuju kebahagiaan serta kemakmuran.
Cara penyajian ikan mas ini pun bukan tanpa alasan. Dalam penjelasan mengenai tradisi arsik pada pernikahan Batak Toba, ikan yang diberikan kepada pengantin memiliki aturan dan simbol tersendiri. Penyajiannya secara utuh menggambarkan harapan agar kehidupan pasangan tetap lengkap dan berjalan bersama.
Coba perhatikan ikan mas arsik dalam acara adat. Biasanya ikan tidak dipotong-potong seperti ikan goreng yang dijual di warung. Ikan justru disajikan utuh, dari kepala sampai ekor.
Dalam sejumlah praktik adat, posisi ikan ketika diberikan juga memiliki makna. Ikan dapat diarahkan dengan kepala menghadap kepada pengantin sebagai simbol bahwa orang tua telah memberikan restu dan melepas anaknya untuk membangun kehidupan bersama pasangan.
Menariknya, simbol arsik juga tidak terlepas dari harapan mengenai keturunan. Dalam beberapa pelaksanaan adat pernikahan Batak Toba, ikan mas betina yang sedang bertelur dapat digunakan sebagai bagian dari simbol harapan agar pasangan memperoleh keturunan. Karena itu, arsik tidak hanya berbicara mengenai hubungan tim redaksi suami dan istri, tetapi juga harapan keluarga terhadap kehidupan baru yang mereka bangun.