Al-Hasan Al-Bashri dan Al-Qurthubi mengatakan, "Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akhirat."

Dengan demikian, ibadah haji tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan menuju Tanah Suci untuk menjalankan berbagai ritual. Lebih dari itu, haji menjadi momentum bagi seorang muslim untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus memperbaiki perilaku dan akhlaknya.

Keutamaan haji mabrur juga disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

Dalam hadits dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Umrah ke umrah yang berikutnya adalah menjadi penutup dosa dalam waktu tim redaksi dua kali umrahan itu, sedang haji mabrur, maka tidak ada balasan bagi yang melakukannya itu melainkan surga." (Muttafaq 'alaih)

Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan dengan mutlak bahwa ibadah hajinya telah diterima oleh Allah SWT. Kendati demikian, terdapat sejumlah tanda yang dapat menjadi indikator bahwa seseorang mendapatkan kebaikan dan keberkahan dari ibadah hajinya.

Dikutip dari buku Kitab I'tikaf dan Kitab Zikir-zikir karya Imam Abu Zakaria Yahya dkk, sebuah hadits menyebutkan,

عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ