NADIKABAR.COM — Manajer Tim Indonesia Kejuaraan BWF World Junior Championships (WJC) 2026 Eskar Tri Denatara menilai saatnya klub-klub bulu tangkis di daerah, terutama klub besar, mulai menerapkan pendekatan "sport science" atau ilmu keolahragaan dalam program pembinaan atlet.
"Penerapan sport science penting untuk memastikan atlet mendapatkan porsi latihan sesuai kebutuhan, meningkatkan performa, sekaligus meminimalkan risiko cedera akibat beban latihan berlebihan," ujarnya saat menghadiri penyerahan penghargaan atlet juara BWF World Junior Championships 2026 di Supersoccer Arena Kudus, Jawa Tengah, Sabtu.
Menurut dia latihan yang bagus bukan sekadar latihan yang berat, tetapi harus sesuai dengan jadwal dan porsinya. Dengan sport science, efisiensi latihan akan lebih terasa karena programnya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing atlet.
Ia mengatakan klub-klub besar seperti PB Djarum, Jaya Raya, Exist, dan Mutiara diharapkan mulai mengembangkan penerapan sport science dalam pembinaan atlet. Terlebih, klub-klub tersebut merupakan mitra strategis yang turut memasok atlet untuk memperkuat Pelatnas PBSI.
Menurut Eskar pembinaan atlet tidak cukup hanya mengandalkan latihan fisik dan teknik. Ada empat aspek utama yang harus mendapatkan perhatian secara seimbang, yakni fisik, teknik, taktik, dan mental. Selain itu, pemenuhan nutrisi juga menjadi faktor penting dalam menunjang performa atlet.
Ia menjelaskan penerapan sport science dapat membantu pelatih memantau beban latihan atau training load atlet sehingga bisa menentukan waktu dan kebutuhan pemulihan (Recovery) secara tepat.
"Ketika beban latihannya sudah tinggi, berarti saatnya atlet mendapatkan recovery yang bagus. Pemberian nutrisinya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan. Salah satu manfaatnya adalah menghindari atlet mengalami overuse atau overtraining yang bisa berakibat cedera, terutama pada usia muda," ujarnya.
Selain latihan fisik dan teknik, Eskar menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi serta pembentukan mental atlet sejak usia dini. Menurut dia, kebutuhan gizi atlet harus disesuaikan dengan aktivitas dan periode pertandingan, baik sebelum maupun setelah bertanding.
Pemenuhan nutrisi yang tepat dapat membantu mempercepat pemulihan kondisi atlet setelah menjalani latihan maupun pertandingan. Ia juga mengingatkan bahwa pemenuhan gizi tidak selalu harus menggunakan makanan mahal, melainkan lebih mengutamakan komposisi nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Di sisi lain, aspek psikologi olahraga (sport psychology) juga menjadi bagian dari penerapan sport science. Aspek tersebut diperlukan untuk membantu atlet mengelola kecemasan, menjaga fokus, konsentrasi, serta membangun mentalitas tangguh ketika menghadapi tekanan pertandingan.
"Latihan mental itu sama pentingnya dengan latihan fisik dan teknik. Jangan sampai ketika atlet kalah, kemudian hanya dikatakan mentalnya jelek. Pertanyaannya, apakah mentalnya sudah dilatih dan bagaimana menjaga fokus serta konsentrasinya?" ujarnya.
Ia menambahkan pembentukan mental atlet membutuhkan proses panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan. Misalnya, dalam nomor ganda, komunikasi dan kekompakan antar pasangan juga perlu dilatih secara berkelanjutan.
Untuk mendorong pembinaan berbasis ilmu pengetahuan, PBSI telah menggelar Webinar Nasional Bulu Tangkis secara rutin setiap bulan. Program yang telah memasuki seri ketujuh tersebut menjadi sarana berbagi pengetahuan mengenai berbagai aspek pembinaan dan kepelatihan kepada pelatih di seluruh Indonesia.
Eskar berharap kegiatan edukasi tersebut dapat meningkatkan kapasitas pelatih sehingga penerapan "sport science" tidak hanya berkembang di Pelatnas, tetapi juga diterapkan klub-klub di daerah.
Ia menyebut PBSI juga mendapatkan dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga pada awal 2026 berupa peralatan sport science modern untuk menunjang program latihan atlet di Pelatnas.
"Peralatan tersebut menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas persiapan atlet Indonesia menghadapi persaingan internasional," ujarnya.