NADIKABAR.COM — Menjaga kesehatan gigi dan mulut tidak hanya soal menghindari gigi berlubang. Masalah seperti plak, bau mulut, gusi bengkak hingga penyakit periodontal juga bisa muncul ketika kebersihan mulut tidak dijaga dengan baik.

Data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada 2025 menunjukkan penyakit pada gigi dan mulut masih menjadi masalah kesehatan yang besar. Hampir 3,7 miliar orang di dunia diperkirakan mengalami berbagai masalah kesehatan mulut. Karies gigi permanen yang tidak ditangani menjadi salah satu kondisi yang paling banyak ditemukan.

Di tengah kebiasaan masyarakat menggunakan bahan alami, daun sirih atau Piper betle juga kerap dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan mulut. Daun yang dikenal memiliki aroma khas tersebut mengandung sejumlah senyawa yang memiliki aktivitas antimikroba dan antioksidan.

Manfaat daun sirih untuk kesehatan gigi dan mulut

1. Membantu menghambat pertumbuhan bakteri

Daun sirih memiliki sejumlah senyawa aktif yang berpotensi menghambat mikroorganisme. Salah satunya adalah kelompok flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas antimikroba.

Sebuah penelitian yang menggunakan ekstrak daun sirih sebagai obat kumur pada pasien periodontitis menemukan adanya penurunan jumlah bakteri Porphyromonas gingivalis setelah penggunaan selama 30 hari. Hasil tersebut menunjukkan potensi ekstrak sirih sebagai bahan pendukung dalam menjaga kebersihan rongga mulut.

Namun, penelitian tersebut menggunakan ekstrak yang telah diformulasikan menjadi obat kumur. Hasilnya tidak bisa langsung disamakan dengan mengunyah atau merebus daun sirih secara mandiri di rumah.

Plak merupakan lapisan tipis yang terbentuk dari bakteri dan sisa makanan pada permukaan gigi. Jika tidak dibersihkan, plak dapat berkontribusi terhadap munculnya karies dan penyakit gusi.

Potensi daun sirih dalam membantu mengendalikan plak juga terlihat dalam penelitian mengenai obat kumur berbahan Piper. Studi tersebut menemukan adanya penurunan indeks plak setelah penggunaan sediaan ekstrak sirih sebagai bagian dari perawatan pasien periodontitis.

Penelitian lain pada 2025 mengenai obat kumur berbahan daun sirih merah atau Piper crocatum juga menemukan penurunan indeks plak setelah digunakan selama satu minggu. Meski begitu, penelitian tersebut masih menggunakan jumlah peserta yang kecil sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar.

3. Berpotensi membantu menjaga kesehatan gusi

Gusi yang sehat seharusnya tidak mudah berdarah, bengkak atau terasa sakit. Penumpukan plak dapat memicu peradangan pada gusi dan bila tidak ditangani dapat berkembang menjadi masalah periodontal yang lebih serius.

Sifat antimikroba dan antiinflamasi yang ditemukan dalam berbagai penelitian mengenai tanaman herbal membuat daun sirih berpotensi digunakan sebagai bahan pendamping untuk kesehatan gusi. Tinjauan sistematis yang diterbitkan pada 2025 juga menemukan bahwa sejumlah bahan herbal dengan aktivitas antimikroba, antiinflamasi dan antioksidan memiliki potensi sebagai terapi tambahan dalam menjaga kesehatan periodontal.

Meski demikian, penggunaan bahan herbal tidak berarti dapat menggantikan pemeriksaan dan perawatan dari dokter gigi.

Bau mulut atau halitosis dapat berkaitan dengan penumpukan plak dan aktivitas bakteri di dalam rongga mulut. Karena memiliki aktivitas antimikroba, ekstrak sirih juga diteliti sebagai salah satu bahan yang berpotensi membantu mengendalikan kondisi tersebut.

Penelitian pada 2025 mengenai obat kumur berbahan daun sirih merah menemukan penurunan indeks plak sekaligus menunjukkan potensinya dalam membantu mencegah halitosis. Namun, penelitian tersebut masih berskala kecil dan dilakukan dalam waktu singkat.

Artinya, daun sirih bisa dipandang sebagai bahan yang berpotensi membantu menjaga kebersihan mulut, bukan sebagai pengganti perawatan utama.

5. Memiliki kandungan senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan

Selain aktivitas antimikroba, daun sirih juga mengandung berbagai senyawa bioaktif. Tinjauan ilmiah terhadap Piper betle menunjukkan tanaman tersebut memiliki potensi farmakologis yang cukup beragam, termasuk aktivitas antimikroba dan antioksidan.

Potensi tersebut menjadi salah satu alasan daun sirih masih banyak diteliti untuk berbagai kebutuhan kesehatan, termasuk kesehatan rongga mulut.

Jangan mengandalkan daun sirih saja

Meski memiliki potensi, penggunaan daun sirih sebaiknya tidak membuat seseorang meninggalkan kebiasaan dasar menjaga kesehatan gigi dan mulut.

WHO tetap merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride 1.000 hingga 1.500 ppm. Fluoride membantu mencegah karies dan memperlambat perkembangan kerusakan gigi.

Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa 57 persen penduduk Indonesia berusia di atas tiga tahun mengalami masalah gigi berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia. Karena itu, menjaga kebersihan gigi dan mulut secara rutin tetap menjadi langkah utama.

Penggunaan daun sirih sebagai bahan alami juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Bukti ilmiah mengenai manfaatnya masih berkembang dan sebagian penelitian menggunakan ekstrak atau formulasi obat kumur tertentu, bukan daun yang digunakan secara langsung.

Jika gigi sering sakit, gusi mudah berdarah, bengkak, muncul nanah atau bau mulut tidak kunjung hilang, sebaiknya jangan hanya mengandalkan bahan alami. Kondisi tersebut perlu diperiksa oleh dokter gigi agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.