Hasil penelitian tersebut menunjukkan konsumsi makanan fermentasi berkaitan dengan peningkatan frekuensi buang air besar, perbaikan konsistensi tinja dan waktu transit usus yang lebih singkat. Meski demikian, para peneliti menilai tingkat kepastian bukti masih bervariasi dan sebagian besar tergolong rendah.
Artinya, minuman fermentasi dapat menjadi bagian dari pola makan, tetapi tidak bisa dianggap sebagai obat utama untuk masalah sembelit.
3. Membantu mengurangi beberapa keluhan pencernaan
Beberapa penelitian juga menemukan kemungkinan manfaat probiotik terhadap keluhan seperti kembung, diare dan rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.
Meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 dan mencakup berbagai penelitian tentang probiotik menemukan adanya hubungan antara konsumsi probiotik dan penurunan risiko beberapa gejala gastrointestinal, termasuk diare dan kembung. Namun, hasil tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan jenis probiotik dan kondisi yang diteliti.
4. Berpotensi membantu penderita IBS
Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan gangguan pencernaan yang dapat menimbulkan keluhan seperti sakit perut, kembung dan perubahan pola buang air besar.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 terhadap 16 uji klinis dengan 1.264 pasien IBS menemukan bahwa konsumsi makanan fermentasi berkaitan dengan peluang perbaikan gejala secara keseluruhan. Namun, penelitian tersebut tidak menemukan perbaikan yang konsisten pada semua gejala, termasuk sakit perut dan kembung.
Karena itu, penderita IBS sebaiknya tidak menjadikan minuman probiotik sebagai satu-satunya cara untuk mengendalikan gejala.