Menurut Orion Magazine, bor itu menembus endapan logam (tembaga, nikel, dan magnetit) dan terus menembus bebatuan yang menyerupai sampel dari Bulan, hingga akhirnya menabrak batuan berusia 2,5 miliar tahun yang dipenuhi fosil plankton mikroskopis.
Kemudian, suhu mulai memanas. Menurut sebuah ulasan ilmiah tentang pengeboran sangat dalam yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment, suhu di dasar lubang bor mencapai 212 derajat Celsius, menciptakan aliran batuan plastis yang berulang kali menutup lubang tersebut.
"Sumur SG-3 secara mendasar membentuk ulang pemahaman tentang struktur kerak benua dan proses geologi dalam. Meskipun tidak menembus Moho (batas antara kerak dan mantel Bumi), SG-3 menghasilkan kumpulan data langsung yang paling komprehensif mengenai kerak benua kristalin," sebut peneliti.