Pergeseran ini memperlihatkan bagaimana seni dan tradisi lokal berakulturasi dengan tren populer. Sound Horeg pada akhirnya menjadi panggung perjumpaan massa untuk berkumpul, menikmati hiburan, hingga menunjukkan eksistensi kelompoknya.

Meski memiliki daya tarik massa yang kuat, dampak dari dentuman pengeras suara berdaya tinggi ini tak ditampik kerap mengganggu kenyamanan publik, terutama warga di sekitar rute karnaval.

"Memang harus kita akui dentumannya mengganggu kemampuan normal manusia, khususnya pada suara dan rasa keindahan seni budaya. Namun, masyarakat tetap memperoleh keuntungan psikologis, ekonomi, dan relasional dari kegiatan tersebut," jelas Wahyudi.

Dari sudut pandang ekonomi warga, fenomena ini tidak berdiri sendiri. Kehadirannya sukses menggerakkan rantai ekonomi lokal-mulai dari jasa penyewaan armada truk, perangkat audio, pengelolaan lahan parkir, hingga geliat pelaku UMKM serta pedagang kaki lima yang meraup untung di sepanjang jalur acara.