Lebih lanjut, Wahyudi menekankan bahwa Sound Horeg merupakan bagian dari budaya populer yang bersifat dinamis dan sementara. Seiring berjalannya waktu, tren semacam ini sangat mungkin bertransformasi kembali sesuai dengan pencarian identitas masyarakatnya.
"Budaya pop akan terus berganti dan setiap orang akan selalu mencari jati diri. Sound Horeg merupakan subvarian budaya yang mengikuti era postmodernisme dan menjadi salah satu bentuk pencarian identitas kolektif masyarakat," tuturnya.
Pada akhirnya, fenomena Sound Horeg di Malang Raya tidak bisa hanya dilihat dari seberapa keras volume suara yang dihasilkan. Di balik perdebatan regulasi dan kenyamanan lingkungan, terdapat kebutuhan sosial masyarakat untuk merayakan kebebasan, menjaga kebersamaan, dan memutar roda ekonomi lokal yang perlu dikelola secara bijak oleh semua pihak.