Suwarno pun berhasil mendapatkan PKH pada 2025. Namun, hanya bertahan dalam sekali pencairan saja. Setelahnya, PKH-nya tiba-tiba berhenti tanpa ia ketahui pasti penyebabnya hingga kini.

"Ibu 2019 itu sudah meninggal, kemudian tidak otomatis saya menggantikan Ibu, nggak. Saya harus berjuang sendiri, mengajukan sendiri, sampai 2025 itu saya dapat, bulan Januari sampai Maret, dan Aprilnya itu sudah langsung di-cut, nggak tahu alasannya. Pendamping juga ditanyakan nggak bisa jawab," ujarnya.

Suwarno pun baru berani menanyakan ke Kelurahan perihal PKH-nya yang berhenti belum lama ini. Dia terkejut karena tercatat sebagai warga desil 10.

"Itu saya tahu (masuk desil 10), saya istilahnya itu ngurus, mau cari tahu ini di kelurahan. Kelurahan nggak bisa jawab. Ini yang bisa jawab kecamatan katanya gitu. Kemudian kita ke kecamatan, kecamatan juga nggak bisa jawab," paparnya.

"Dua minggu itu terakhir kita ke sana. Katanya gitu (masuk desil 10), tapi saya nggak lihat ya, nggak lihat komputernya. Katanya petugas gitu. Saya sendiri aja yang kena itu tidak tahu. Desil itu dasarnya apa? Dan desil itu mulai dari mana? Ya jelaslah (mempertanyakan)," imbuh Suwarno.