"Ide ini harus didukung oleh riset empiris kenapa orang banyak makannya nggak bergizi. Apakah karena mereka tidak punya pengetahuan atau orang tua mereka nggak punya kemampuan beli makan yang bergizi," kata Bonnie kepada wartawan, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, pengetahuan tentang makanan bergizi saja tidak cukup. Sebab, bila orang tua tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menyediakan makanan bergizi, maka kebutuhan gizi pada anak tak akan cukup.

"Kalau punya pengetahuan makan yang bergizi tanpa dibarengi dengan kemampuan ekonomi sih orang tuanya yang mampu menyediakan makan bergizi buat anaknya bagaimana anak-anak kita bisa makan yang bergizi," ujarnya.

Bonnie juga mempertanyakan efektivitas program MBG dalam memenuhi kebutuhan gizi anak selama sehari penuh. Dia menilai perlu ada kajian mengenai kecukupan gizi dari satu kali makan yang diberikan melalui program tersebut.

"Jadi menurut saya pakai penelitian empiris dulu. Apa sebabnya orang Indonesia makan makanan yang nggak bergizi. Katakan MBG ini makan siang sekali, bagaimana dia makan malamnya? Bagaimana dia makan di luar jam yang diberikan sama MBG? Apakah sekali makan mbg itu mampu meng-cover gizi selama seharian," kata Bonnie.

Dia mengingatkan agar upaya memperkuat program MBG tidak justru menambah beban siswa melalui penambahan materi atau kegiatan dalam kurikulum. Menurutnya, tujuan baik dari sebuah program perlu disertai pertimbangan mengenai dampaknya terhadap peserta didik.

"Jadi kan harus clear dulu jangan sampai nanti jadi gara-gara mau memperkuat satu program ya boleh-boleh aja program tersebut berjalan tapi kemudian malah membebani siswa," tuturnya.

Bonnie menegaskan, beban belajar siswa juga perlu menjadi pertimbangan sebelum pemerintah memutuskan memasukkan MBG ke dalam kurikulum sekolah. Dia berharap kebijakan pendidikan tidak menambah tekanan terhadap siswa hingga memicu kelelahan akibat beban belajar yang berlebihan.