Data tersebut mencakup siswa, santri, dan kelompok 3B, yakni balita, ibu hamil, serta ibu menyusui. Integrasi data menjadi dasar penetapan sasaran dan evaluasi dampak MBG agar penyaluran program lebih akurat dan tepat sasaran.

Zulhas juga menegaskan pembenahan harus disertai pembersihan praktik penyimpangan, termasuk perantara dan kerja sama oknum yang mengarah pada korupsi.

"Kalau dulu itu, yayasan-yayasan dibentuk, titik ditentukan, ya akhirnya kerjasama korupsi, itu yang kita bersihkan. Dan kalau ada kesalahan yang sengaja, (bukti) jelas terang-benderang, bisa dibawa ke pengadilan," tegas Zulhas.

Selain itu, pemerintah akan memperkuat peran Satgas MBG di daerah dalam melakukan pemantauan dan pengawasan sesuai tugas dan fungsi yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025.

Kepala BGN Jelaskan Uji Coba MBG Prasmanan

Kepala BGN, Sudaryono menjelaskan, metode prasmanan diterapkan dengan membawa makanan dalam kondisi hangat ke kelas untuk kemudian disajikan kepada siswa. Cara ini diharapkan dapat menjaga kualitas makanan karena jeda antara proses memasak dan waktu makan menjadi lebih singkat.

"Per hari ini, di tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas," ujar Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar.

Menurut Sudaryono, penyajian langsung di kelas diharapkan membuat makanan lebih hangat dan segar saat dikonsumsi sekaligus mengurangi risiko kerusakan makanan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

"Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan," jelasnya.

Metode prasmanan juga diharapkan dapat mengurangi sisa makanan karena siswa bisa mengambil tambahan apabila makanan masih tersedia.