Seni, kata Rommy, ditempatkan oleh Guruh sebagai cermin martabat peradaban dan instrumen perjuangan politik berjiwa kebangsaan yang diekspresikan lewat harmoni musik, tarian, serta syair-syair sarat nasionalisme.

Menutup sambutannya sebelum tahlilan dimulai, Rommy menyampaikan salam perpisahan haru sembari memanjatkan doa terbaik agar almarhum mendapat tempat termulia di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

"Panggung kehidupanmu mungkin telah usai, tapi suara, pemikiran, dan karya-karyamu akan terus hidup dalam perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia. Selamat jalan, Pak Lek Guruh. Karyamu abadi, pengabdianmu menjadi bagian dari sejarah bangsa," tutur Rommy.

Usai sambutan Rommy, suasana khusyuk dengan lantunan ayat-ayat suci terdengar. Tampak terlihat dalam potret kebersamaan keluarga besar Bung Karno yang menggelar doa bersama, dikelilingi oleh puluhan anak-anak yatim berpeci dan berbusana putih.

Di sisi kanan ruangan, Megawati tampak duduk tenang mengenakan busana bernuansa putih dan selendang, khusyuk mengikuti rangkaian acara.

Tepat di dekat jajaran keluarga inti, tampak pula kakak Megawati, Guntur Soekarnoputra bersama sang istri yang hadir mengenakan busana senada dalam balutan nuansa putih dan elegan, serta Rommy yang duduk di barisan depan sambil memegang buku doa.

Sementara itu, Kartika Sari Dewi Soekarno yang duduk di sisi kanan Megawati turut membaur dengan khidmat.

Tepat di hadapan mereka, berderet rapi puluhan anak-anak yatim yang duduk bersila di atas permadani karpet bermotif klasik. Dengan tangan yang memegang Al-Qur'an kecil dan buku yasin, wajah-wajah muda itu tampak serius melantunkan doa demi doa.

Sementara, dalam ceramahnya, Din Syamsuddin membahas soal kehidupan setelah kematian dan bekal yang dibawa saat menghadapi kematian. Dia pun mendoakan almarhum Guruh yang meninggal pada usia 73 tahun.