NADIKABAR.COM — Meghan Markle dikabarkan merasa sangat lega setelah kepolisian akhirnya mengusut dugaan kasus kepemilikan pornografi anak yang menyeret ayah kandungnya, Thomas Markle Sr.

Perasaan lega itu diungkapkan salah satu kawan dekat Meghan yang mengatakan aktris itu sebenarnya bertahun-tahun hidup dalam kecemasan mendalam terkait kelakuan ayahnya.

Sumber, seperti diberitakan People pada Jumat (23/10), mengatakan Meghan Markle terpaksa diam agar tidak merusak potensi penyelidikan aparat.

"Sebagai seorang ibu dari anak-anak yang masih kecil, dia sangat hancur melihat semua ini. Yang terpenting, pikirannya tertuju pada anak-anak yang mungkin menjadi korban," kata sumber.

"Kesejahteraan dan perlindungan mereka harus diutamakan," ujar sahabat yang berbicara atas seizin Meghan tersebut kepada The Sun.

Sumber itu juga menyinggung betapa frustrasinya istri Pangeran Harry tersebut karena harus menahan diri dari sorotan publik murni atas dasar nasihat hukum, sembari terus berharap pihak berwenang segera bertindak menuntaskan kasus ini.

Kelegaan Meghan mencuat usai kakak tirinya, Thomas Markle Jr., membongkar temuan mengejutkan di kediaman ayah mereka di Cebu, Filipina. Sang kakak klaim menemukan ratusan bahkan ribuan gambar pornografi anak di rumah tersebut.

Lewat pernyataan resminya kepada People, Meghan juga mengaku sangat terpukul dengan tudingan itu. Ia lantas mengungkit surat pada 2018 yang pernah dikirimkan ke Kepolisian Metropolitan London dan unit Perlindungan Spesialis dan Kerajaan terkait ayahnya.

"Surat itu kemudian dibagikan kepada saya. Isinya memuat tuduhan yang meresahkan dan mengganggu tentang ayah saya, dan saya diberi jaminan bahwa hal itu sedang diselidiki," kata Meghan.

Dengan terbongkarnya kasus ini ke publik, Meghan berharap masyarakat kini paham alasan sebenarnya di balik keputusannya memutus hubungan dengan sang ayah sejak sebelum pernikahannya pada Mei 2018.

Ia menegaskan larangan bagi Thomas Sr. untuk menemui Pangeran Archie dan Putri Lilibet murni demi melindungi kedua buah hatinya dari potensi ancaman.

"Saya berharap sekarang bisa dipahami bahwa, terlepas dari distorsi publikasi media tertentu selama bertahun-tahun, jarak dengan ayah saya dan pilihan saya untuk tidak mengizinkannya melakukan kontak dengan anak-anak kami, adalah karena satu alasan, yakni melindungi mereka," tegasnya.

Menghadapi rentetan tuduhan miring itu, Thomas Sr. membantah keras soal kepemilikan materi eksploitasi anak. Pria berusia 80-an tahun itu mengaku kaget dan sakit hati dengan tuduhan yang dilontarkan putra kandungnya sendiri.

"Saya terkejut, saya terluka, dan saya sangat kesal karena putra saya melontarkan tuduhan ini kepada saya. Saya tidak akan pernah melakukan apa yang dituduhkan," ungkap Thomas kepada The Daily Mail.

"Ini adalah hal terburuk yang bisa dituduhkan seseorang kepada saya," tuturnya.

Pihak Kepolisian Metropolitan London belakangan mengonfirmasi bahwa mereka mengetahui laporan media soal peredaran surat tahun 2018 tersebut.

Namun, mereka berdalih sedang melakukan penyelidikan internal dan mengklarifikasi bahwa pihaknya belum pernah dan tidak sedang menyelidiki Thomas Sr. yang kini menetap di luar Inggris.

Sementara itu, Biro Investigasi Federal AS (FBI) memastikan sudah memantau kasus ini.

Mereka menyatakan siap memberikan dukungan kepada pihak berwenang di Filipina untuk menyelidiki setiap potensi pelanggaran hukum federal Amerika Serikat terkait tuduhan tersebut.