"Saya kebetulan anggota dari IDRT, Indonesia Diving Rescue Team. Dari mulai Danau Saguling, Cirata, Sungai Cikapundung, sampai Jatigede saya sudah melakukan operasi SAR pencarian orang tenggelam. Dan bahkan yang terbesar adalah saat operasi SAR Sriwijaya di Pulau Laki, saya bergabung dengan Basarnas dan bergabung dengan IDRT selama satu minggu. Dan yang terakhir adalah di Selat Banyuwangi yang kapal tenggelam," tutur Yatno.
Ingatannya melayang ke masa awal saat niat tulusnya membantu operasi SAR orang tenggelam di Situ Lembang sempat ditolak lantaran belum memiliki sertifikasi resmi. Titik balik itu memicu tekadnya hingga resmi meraih lisensi dari Angkatan Laut pada 2007.
Bagi kakek satu cucu ini, melatih penyelam lokal hingga mengawal upacara di dasar laut Palabuhanratu adalah panggilan jiwa untuk terus memberikan manfaat melalui keilmuannya.
"Obsesi saya ingin berguna bagi nusa dan bangsa dari keilmuan saya. Dan yang terkesan saya dengan selam bisa keliling Indonesia, pernah ngajar di Papua, di Aceh, di Manado, sampai ke Bali, Lombok," ungkapnya.
Tak hanya mengajar, Yatno juga aktif membina divisi selam di organisasi Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri di Bandung guna memperkuat jejaring potensi SAR.
"Saya membina divisi selam di Wanadri. Di Bandung sekarang sudah ada divisi selam, jadi setiap ada operasi kemanusiaan dari Basarnas atau relawan, bisa kontak kami dan kami siap membantu," paparnya.