Terkait pelaksanaan upacara di Teluk Palabuhanratu, Yatno menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian penutup dari program sertifikasi Open Water* dan pelatihan *Scuba Rescue. Program tersebut berlangsung selama lima hari, meliputi materi teori kelas, dua hari praktik di kolam, dan dua hari pemantapan di laut.
"Kerja sama pelatihan dengan pegiat di Sukabumi sudah berjalan berkesinambungan beberapa tahun. Biasanya rekan-rekan dari sini yang datang berlatih ke Bandung. Khusus momen 17 Agustus ini, sekaligus pelaksanaan upacara bendera, saya yang datang langsung ke Palabuhanratu," jelas Yatno.
Mengenai kondisi perairan bawah laut Palabuhanratu, Yatno menyebut tantangan utama terletak pada jarak pandang.
"Kendalanya terutama pada visibilitas. Karena dasarnya berpasir, pergerakan sedikit saja langsung membuat air 'mulek' atau keruh berpasir, sehingga visibilitas berkurang. Di samping itu, aktivitas lalu lintas kapal di teluk turut berpengaruh terhadap kondisi terumbu karang," bebernya.
Bagi Yatno, upacara di Palabuhanratu ini merupakan kali ketiga dirinya terlibat dalam pengibaran bendera di bawah permukaan laut. Sebelumnya, ia pernah mengikuti upacara serupa bersama jajaran TNI AL di kawasan Ciletuh dua tahun lalu. Tak hanya itu, ia juga menjadi bagian dari sejarah upacara bawah air pemecahan rekor dunia di Manado.
"Saya pernah mengikuti upacara bendera di Manado yang pecah rekor dunia, sampai hari ini belum pernah terpecahkan. Itu karena penyelam terbanyak, waktu itu hampir 3.000 penyelam se-Indonesia. Kedua, terpanjang karena ada rantai manusia berpegangan tangan di bawah air oleh semua Polwan se-Indonesia, sekitar 1.000 orang," kenang Yatno.