NADIKABAR.COM — Kisah pengibaran bendera Merah Putih di dasar laut Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi pada 17 Agustus 2026 lalu, masih menyisakan cerita menarik dari orang-orang di balik aksi tersebut.
Di balik kibaran bendera di kedalaman perairan Sukabumi, ada jalinan dedikasi penyelam senior dan antusiasme generasi muda yang menyatu dalam misi kemanusiaan dan cinta bahari.
Sosok penting di balik kelancaran aksi penyelaman itu adalah Yatno (52), instruktur dari Bandung Scuba Centre asal Bandung Barat. Pria yang telah mengantongi sertifikasi instruktur sejak 2017 ini memandang dunia bawah air bukan sekadar olahraga, melainkan ladang pengabdian.
Pengalaman bertahun-tahun di medan penyelamatan air membentuk ketenangan pria yang juga anggota Indonesia Diving Rescue Team (IDRT) tersebut.
IDRT sendiri beranggotakan tim relawan penyelam profesional dan penyelam penyelamat (rescue diver) di Indonesia yang sering membantu Badan SAR Nasional (Basarnas) dalam operasi pencarian dan pertolongan di bawah air.
Berbagai operasi pencarian dan pertolongan (SAR) orang tenggelam di perairan Jawa Barat hingga skala nasional pernah ia jalani.
"Saya kebetulan anggota dari IDRT, Indonesia Diving Rescue Team. Dari mulai Danau Saguling, Cirata, Sungai Cikapundung, sampai Jatigede saya sudah melakukan operasi SAR pencarian orang tenggelam. Dan bahkan yang terbesar adalah saat operasi SAR Sriwijaya di Pulau Laki, saya bergabung dengan Basarnas dan bergabung dengan IDRT selama satu minggu. Dan yang terakhir adalah di Selat Banyuwangi yang kapal tenggelam," tutur Yatno.
Ingatannya melayang ke masa awal saat niat tulusnya membantu operasi SAR orang tenggelam di Situ Lembang sempat ditolak lantaran belum memiliki sertifikasi resmi. Titik balik itu memicu tekadnya hingga resmi meraih lisensi dari Angkatan Laut pada 2007.
Bagi kakek satu cucu ini, melatih penyelam lokal hingga mengawal upacara di dasar laut Palabuhanratu adalah panggilan jiwa untuk terus memberikan manfaat melalui keilmuannya.
"Obsesi saya ingin berguna bagi nusa dan bangsa dari keilmuan saya. Dan yang terkesan saya dengan selam bisa keliling Indonesia, pernah ngajar di Papua, di Aceh, di Manado, sampai ke Bali, Lombok," ungkapnya.
Tak hanya mengajar, Yatno juga aktif membina divisi selam di organisasi Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri di Bandung guna memperkuat jejaring potensi SAR.
"Saya membina divisi selam di Wanadri. Di Bandung sekarang sudah ada divisi selam, jadi setiap ada operasi kemanusiaan dari Basarnas atau relawan, bisa kontak kami dan kami siap membantu," paparnya.
Terkait pelaksanaan upacara di Teluk Palabuhanratu, Yatno menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian penutup dari program sertifikasi Open Water* dan pelatihan *Scuba Rescue. Program tersebut berlangsung selama lima hari, meliputi materi teori kelas, dua hari praktik di kolam, dan dua hari pemantapan di laut.
"Kerja sama pelatihan dengan pegiat di Sukabumi sudah berjalan berkesinambungan beberapa tahun. Biasanya rekan-rekan dari sini yang datang berlatih ke Bandung. Khusus momen 17 Agustus ini, sekaligus pelaksanaan upacara bendera, saya yang datang langsung ke Palabuhanratu," jelas Yatno.
Mengenai kondisi perairan bawah laut Palabuhanratu, Yatno menyebut tantangan utama terletak pada jarak pandang.
"Kendalanya terutama pada visibilitas. Karena dasarnya berpasir, pergerakan sedikit saja langsung membuat air 'mulek' atau keruh berpasir, sehingga visibilitas berkurang. Di samping itu, aktivitas lalu lintas kapal di teluk turut berpengaruh terhadap kondisi terumbu karang," bebernya.
Bagi Yatno, upacara di Palabuhanratu ini merupakan kali ketiga dirinya terlibat dalam pengibaran bendera di bawah permukaan laut. Sebelumnya, ia pernah mengikuti upacara serupa bersama jajaran TNI AL di kawasan Ciletuh dua tahun lalu. Tak hanya itu, ia juga menjadi bagian dari sejarah upacara bawah air pemecahan rekor dunia di Manado.
"Saya pernah mengikuti upacara bendera di Manado yang pecah rekor dunia, sampai hari ini belum pernah terpecahkan. Itu karena penyelam terbanyak, waktu itu hampir 3.000 penyelam se-Indonesia. Kedua, terpanjang karena ada rantai manusia berpegangan tangan di bawah air oleh semua Polwan se-Indonesia, sekitar 1.000 orang," kenang Yatno.