Umumnya, proses memasukkan bahan ke dalam bambu dilakukan kaum wanita. Sedangkan proses pemanggangan bambu dilakukan para pria. Pembagian tugas tersebut menjadi bagian dari kebersamaan warga dalam menjalankan tradisi warisan leluhur yang dilakukan secara turun temurun.
"Kalau itu tradisi ma'doda sudah sejak dulu dilakukan, sejak ada nenek moyang kita, itu dilakukan secara turun temurun," ungkap Onang.
Onang mengatakan, awalnya doda' dibuat sebagai sajian untuk keluarga maupun sesama warga di daerah ini. Namun seiring berjalannya waktu, doda' dibuat untuk dihidangkan dan diberikan kepada siapa saja yang berkunjung ke Desa Riso saat perayaan maulid.
Bahkan, tradisi ma'doda berkembang menjadi salah satu daya tarik Desa Riso. Setiap perayaan maulid, warga dari luar desa turut datang dan melihat langsung proses pembuatan doda' yang dilakukan masyarakat secara bersama-sama itu. Banyaknya jumlah warga yang berdatangan kerap membuat akses jalan menuju desa ini diwarnai kemacetan parah.
"Dulu kan belum banyak tamu dari luar, jadi kita buat doda' untuk kita tukar dengan tetangga, kita jamu saudara-saudara yang lain. Jadi setiap rumah pasti buat karena kita akan bertukar," beber Onang.
"Itu yang menjadi daya tarik, sehingga alhamdulillah setiap perayaan maulid banyak warga yang datang mau melihat tradisi ma'doda dan itu yang kita tetap pertahankan, kita lestarikan budaya-budaya dari orang-orang tua kita terdahulu," sambung Onang.
Menurut Onang, rata-rata setiap rumah di desa ini menyiapkan sedikitnya 25 kilogram beras ketan untuk dibuat doda'. Bahkan, tidak jarang ada warga yang menyiapkan hingga satu kuintal beras ketan untuk diolah menjadi doda'.
Rata-rata untuk setiap kilogram beras ketan bisa diolah menjadi tiga hingga empat doda', tergantung ukuran batang bambu yang digunakan.
"Dulu tidak banyak doda' yang dibuat, karena tamu tidak seberapa. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak tamu yang datang sehingga tuan rumah berusaha semaksimal mungkin untuk menyiapkan doda' sebanyak-banyaknya," tuturnya.
Onang melanjutkan, pelaksanaan tradisi ma'doda membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Selain untuk mempersiapkan bahan seperti beras ketan dan kelapa, warga juga harus mencari kayu bakar serta bambu yang akan digunakan untuk membuat doda'.