Setelah panen, lahan tidak terus-menerus digunakan. Area tersebut akan memasuki masa bera dan dibiarkan kembali mengalami proses suksesi.
Perlahan, tumbuhan kembali tumbuh dan biomassa bertambah. Bahan organik juga terus menumpuk dan mengalami proses penguraian sehingga membantu memulihkan kesuburan tanah.
Beberapa tahun kemudian, lahan tersebut dapat kembali dimanfaatkan. Siklus ini menunjukkan bahwa praktik berladang Dayak Iban berlangsung dalam rentang waktu panjang dan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pembakaran.
Endah mengingatkan praktik penggunaan api oleh masyarakat Dayak Iban tidak bisa digeneralisasi sebagai gambaran seluruh penggunaan api di Indonesia.
Pembakaran dalam tradisi berladang dilakukan pada skala terbatas, menggunakan teknik pengendalian tertentu, serta berada dalam lanskap yang dikelola masyarakat. Kondisinya berbeda dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi tanpa kendali.
Dari pengalaman di Sungai Utik, Endah menilai, pemahaman terhadap api perlu mempertimbangkan hubungan tim redaksi manusia, budaya, lahan, dan lingkungan.
Bagi masyarakat Dayak Iban, hutan dan ladang bukan hanya tempat untuk menghasilkan pangan. Di dalamnya terdapat adat, pengetahuan, benih, serta tradisi yang terus diwariskan.
"Di balik api ada padi, benih, pangan, adat, suksesi hutan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi," kata Endah.